Korupsi level jelata

Aku mengendarai pelan bus AKAP jurusan Solo-Jogja yang berangkat dari Terminal Tirtonadi Solo. Penumpang belum ada separoh bus. Aku berharap di Terminal Kartosuro nanti banyak penumpang yang naik.

Apalagi hari minggu sore seperti ini. Mahasiswa yang kuliah di Jogja kembali dari mudiknya di sekitaran kota Solo. Aku menjadi sopir bus lima belas tahun lebih, sehingga hapal benar dengan tren penumpang bus.

Dalam perjalanan aku dibantu oleh seorang kenek dan kondektur. Tugas kenek lebih sering menjadi co-driver. Ia tahu persis ke mana arah stir-ku. Komunikasi kami lakukan dengan kode-kode tertentu. Prinsip kami, bus melaju cepat dan penumpang pun selamat sampai di tujuan.

Tugas utama kondektur menarik ongkos para penumpang. Ia juga nanti yang melakukan laporan dan setor uang kepada juragan bus.

Dari kaca spion aku dapat memperkirakan berapa jumlah penumpang dalam satu rit. Sehingga laporan keuangan yang disampaikan oleh kondektur bisa aku cross-check dari jumlah penumpang berdasarkan perkiraanku. Lanjut baca…

Share on Facebook

Balada sandal jepit

Demi alasan kenyamanan dalam perjalanan panjang Karawang – Jogja, saya mengenakan sandal jepit. Hal ini biasa saya lakukan jika sedang melakukan perjalanan (darat) yang memakan waktu berjam-jam.

Sandal jepit saya berwarna hitam, modelnya juga anti mainstream meskipun harganya seperti harga sandal jepit yang lain. Perjalanan ke Jogja kali ini saya tempuh melalui jalur selatan via Tol Cipali.

Pemberhentian pertama di sekitaran Pejagan, untuk melakukan isoma. Sengaja mampir di warung sate kambing (muda), saya ingin menikmati sop kambing untuk menghangatkan badan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Ada kalanya pengin pensiun, tapi bukan sekarang


Beberapa belas tahun lalu, saat saya mengikuti salah satu pelatihan James Gwee pernah punya keinginan untuk pensiun di usia 48. Maunya pensiun dini dengan status finansial di kuadran 4 versi Cashflow Quadrant milik Robert Kiyosaki. Ehm, tahu-tahu target usia pensiun terlewati begitu saja, saya tak melakukan apa pun untuk mencapai kebebasan finansial di usia muda.

Kalau sedang melamun saya suka membayangkan enaknya hidup sebagai pensiunan: punya warung kelontong kecil merangkap sebagai marbot masjid. Tidak sekarang bro, tanggunganmu masih banyak yang belum kelar! Lanjut baca…

Share on Facebook