Pernikahan nenekku

Kartu undangan pernikahan berwarna krem yang tergenggam erat di tanganku bertarikh Senin Pon, 13 April 2036. Ukiran nama pengantin yang tersemat di sana: Wiji Rahayu dengan Broto Kusumo. Wiji Rahayu adalah nama nenekku, ibu dari mamaku.

Di halaman sebaliknya tertulis sebuah sajak agak panjang, berulang-kali aku membacanya karena aku sangat menyukainya.

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta Romeo kepada Juliet si majnun Qais kepada Laila
belum apa-apa
temu-pisah kita lebih bermakna
dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa Lanjut baca…

Share on Facebook

Juli #2

Tangan Tuhan Nomer 1 bersama ibunya Juli pada H-1 Wisuda telah tiba di kota Paling Ngangeni se-Nusantara untuk mendampingi Juli saat wisuda nanti. Semua orang yang mengenal Juli bangga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, ketika Juli sudah mendapatkan ijazah dan transkip nilai, Tangan Tuhan Nomer 1 menghubungi Tangan Tuhan Nomer 6 supaya mencarikan pekerjaan bagi Juli. Berkas CV, ijazah dan transkip nilai segera dikirim via email ke Tangan Tuhan Nomer 6. Lanjut baca…

Share on Facebook

Juli #1

Tangan-tangan Tuhan bergerak ke mana-mana, salah satunya merengkuh seorang anak lelaki bernama Juli. Bayangkan peristiwa sekitar lima tahun lalu, di sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu, terkenal sebagai kota Paling Tenteram se-Indonesia.

Pada waktu itu Juli kelas tiga SMA, ia termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Secara ekonomi, orang tuanya masuk kategori kurang mampu sementara mereka tak mau anak lelakinya itu putus sekolah hingga SMA saja. Untuk masuk ke PTN terbaik se-Indonesia, Juli memilih jalur bidik misi dan puji Tuhan Pemilik Seluruh Alam ia diterima masuk di salah satu Fak. di PTN terbaik se-Indonesia itu.

Juli bukannya gembira, ia malah bersedih sebab untuk daftar ulang tak ada biaya. Bukan untuk biaya yang dibayarkan ke PTN, tetapi biaya akomodasi untuk perjalanan menuju kota Paling Ngangeni se-Nusantara. Ia pasrah. Lanjut baca…

Share on Facebook