Juli #2

Tangan Tuhan Nomer 1 bersama ibunya Juli pada H-1 Wisuda telah tiba di kota Paling Ngangeni se-Nusantara untuk mendampingi Juli saat wisuda nanti. Semua orang yang mengenal Juli bangga kepadanya.

Beberapa hari kemudian, ketika Juli sudah mendapatkan ijazah dan transkip nilai, Tangan Tuhan Nomer 1 menghubungi Tangan Tuhan Nomer 6 supaya mencarikan pekerjaan bagi Juli. Berkas CV, ijazah dan transkip nilai segera dikirim via email ke Tangan Tuhan Nomer 6. Lanjut baca…

Share on Facebook

Juli #1

Tangan-tangan Tuhan bergerak ke mana-mana, salah satunya merengkuh seorang anak lelaki bernama Juli. Bayangkan peristiwa sekitar lima tahun lalu, di sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu, terkenal sebagai kota Paling Tenteram se-Indonesia.

Pada waktu itu Juli kelas tiga SMA, ia termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Secara ekonomi, orang tuanya masuk kategori kurang mampu sementara mereka tak mau anak lelakinya itu putus sekolah hingga SMA saja. Untuk masuk ke PTN terbaik se-Indonesia, Juli memilih jalur bidik misi dan puji Tuhan Pemilik Seluruh Alam ia diterima masuk di salah satu Fak. di PTN terbaik se-Indonesia itu.

Juli bukannya gembira, ia malah bersedih sebab untuk daftar ulang tak ada biaya. Bukan untuk biaya yang dibayarkan ke PTN, tetapi biaya akomodasi untuk perjalanan menuju kota Paling Ngangeni se-Nusantara. Ia pasrah. Lanjut baca…

Share on Facebook

Nyaris ketinggalan pesawat

Hari ini saya menjemput bapak dan ibu yang tengah berada di bilangan Gunung Batu Bogor. Semalam dengan membuka peta yang disediakan oleh Kyai Gugel, saya memperhitungkan waktu tempuh: Karawang – Bogor – Bandara Halim (HLP). Tiket pesawat ke SOC saya dapatkan 24 jam sebelum jadwal keberangkatan.

Saya berangkat dari rumah jam 10.00 dengan perkiraan sampai di Bogor jam 12.00 WIB. Sebelumnya ngedrop Lila dulu ke sekolahnya karena ia ada kegiatan di sana. Perkiraan saya tidak ada kemacetan di hari Minggu tidak sepenuhnya benar, di JORR pada titik tertentu mobil tidak bisa ‘ngebut’ secara maksimal.

Olala, lama tidak pernah ke Bogor membuat saya agak kagok melewati ruas jalannya. Perjalanan tersendat ketika sampai di sekitar Stasiun Bogor. Jalanan dipenuhi oleh angkot yang ngetem tidak beraturan. Sampai di tempat bapak dan ibu menginap hampir mendekati jam 1 siang.  Lanjut baca…

Share on Facebook