Saya masih mengenang Pak Harto dan jejak presiden RI

Mobil rental sudah siap ketika saya dan seorang kawan mendarat di Bandara SOC. Karena referensi seorang kolega saya, maka mobil tersebut bisa saya rental dengan sistem lepas kunci. Selebihnya, kawan saya itu yang mengemudikan mobil mungil berwarna hijau muda menyusuri jalan-jalan sekitar Solo Raya.

“Tujuan pertama kita ke Sukoharjo. Tahan dulu laparnya ya, Mas. Nanti kita makan di Soto Nggading, soto langganan Pak Jokowi, bahkan beberapa waktu lalu Pak Jokowi ngajak makan petinggi parpol makan di sana, termasuk Bu Megawati,” ujar saya kepada kawan yang tengah sibuk menyesuaikan injakan rem, gas dan kopling.

Urusan ke Sukoharjo tak sampai setengah jam, dan kami langsung meluncur ke Jl. Brigjen Sudiarto tempat di mana Soto Gading berada, untuk menikmati makan siang. Warung soto lumayan ramai meskipun belum jam makan siang.

Selesai makan, mobil putar arah menuju Alun-alun Kidul/Alkid Kraton Surakarta Hadiningrat. Kawan saya itu senangnya bukan main begitu saya ajak menuju Kraton. Kami melewati kandang Kyai Slamet yang sedang berkubang di lumpur sekitar Alkid, mobil melaju pelan mengelilingi beteng Kraton dan akhirnya sampai di Kraton. Kami membeli tiket masuk Museum Kraton. Ini kali ke sekian saya masuk ke sana, dan kondisi museum makin memprihatinkan saja. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mengisi waktu saat pesawat delay

Posisi saya saat tulisan ini saya bikin ada di ruang tunggu Bandara Solo. Jadwal terbang yang seharusnya jam 16.50 ditunda hingga jam 19.15 nanti. Pihak penerbangan sudah ngasih jatah tali asih berupa fried chicken plus air mineral. Ada beberapa penerbangan yang terlambat, sehingga ruang tunggu riuh rendah alih-alih tak terdengar gerutuan para penumpang.

Daripada bosen menunggu saya gunakan waktu yang ada untuk amati tingkah polah para penumpang. Beberapa di antaranya bolehlah saya bagikan di sini:

[1]

Seorang penumpang laki-laki kedapatan membawa korek api gas yang disimpan di saku celananya. Ia ngeyel kenapa tidak diperbolehkan membawa pemantik api semacam itu. Dengan sabar petugas AP menjelaskan peraturan penerbangan. Dari penampilannya, penumpang tersebut sepertinya orang terpelajar dan sudah biasa naik pesawat terbang. Saya tak tahu kelanjutan kejadian tersebut, namun yang saya lihat ketika melewati orang tersebut, istrinya diam-diam merekam kejadian dengan ponsel pintarnya dan barangkali akan diunggah ke yutub. Lanjut baca…

Share on Facebook

Gulai kepala ikan kakap

Tokoh kita yang bernama Kamingsun yang pinter mengelola hutang itu, saban hari saat berangkat dan pulang kerja selalu melewati Rumah Makan Padang “Sederhana”. Meskipun namanya sederhana, rumah makan ini tarifnya tidak murah. Bangunannya terbilang besar dan mewah, dengan parkiran yang luas. Pada saat makan siang, area parkirnya akan dipenuhi aneka mobil dan semua kursinya terisi semuanya. Pegawainya banyak dan berseragam batik berwarna biru.

Pernah sekali-kalinya, Kamingsun ditraktir bosnya makan di sana. Ia masih ingat interior rumah makan tersebut. Ruang terbagi menjadi dua, sebelah kanan diperuntukkan bagi para perokok dan bagi yang tidak mau terkena asap rokok disediakan ruang yang lebih luas dan berpendingin udara. Pada dinding ruangan dipasang foto-foto para tokoh nasional yang pernah makan di sana. Hiasan dinding yang lain berupa poster besar tentang keindahan alam Tanah Minang seperti Danau Maninjau, Lembah Anai (terlihat ada kereta api yang melintas), Ngarai Sianok, dan tentu saja Jam Gadang. Lanjut baca…

Share on Facebook