Menjaga hafalan

Tidak terasa hampir menuju 1000 malam Lila berada di asrama, dan sebentar lagi ia akan menyelesaikan pendidikan jenjang SMP. Dulu di awal-awal ia tinggal di asrama, pada dua pertiga malam saya sering terbangun ketika tiba-tiba ia hadir dalam mimpi.

Kamu sedang ngapain, Lil? Saya suka bereka-wicara. Belakangan, saya kembali suka terbangun dua pertiga malam, sekedar ‘menemaninya’ belajar menjelang UN. Ya, di asrama ia akan bangun sebelum waktu subuh: mandi, belajar, shalat subuh, menderas Quran, sarapan lalu berangkat ke sekolah.

Saya suka membayangkan aktivitas pagi Lila seperti itu sambil berjalan menuju masjid untuk shalat subuh berjamaah. Saya sering kaget jika tiba-tiba ada tetangga yang juga berangkat ke masjid menyapa/menepuk pundak saya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Nggak tahan kangen

Kira-kira tiga minggu lalu, Lila ambil jadwal pesiar. Hati saya bersorak gembira bakal bertemu dengannya. Agar kebersamaan dengannya cukup lama, kami tak membawanya pulang ke rumah tetapi nginep di Bandung. Maklum, ia punya waktu hanya 24 jam keluar asrama. Sebetulnya, acara di Bandung ya begitu-begitu aja: makan malam, main internetan di hotel dengan wifi gratis, paginya muter-muter sekitar Taman Lansia melihat pedagang K5 yang menjual aneka kebutuhan, siangnya ke Gramed Merdeka, terus kembali ke asrama sebelum jam 4 sore.

Minggu lalu ia mengabarkan kalau kesehatannya terganggu dan klinik di asrama katanya obatnya ‘begitu-begitu saja’ maka Jumat malam sepulang kantor saya menjemputnya (dengan izin khusus dari Kepala Asrama). Bukan penyakit yang mengkuatirkan sih – penyakit khas anak pesantren – tetapi kalau dibiarkan bisa berakibat fatal. Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjenguk Kartini dan Sunan Kudus

Urusan seremonial lebaran kelar sudah. Sisa waktu libur lebaran saya manfaatkan untuk memperkenalkan sebagian kecil wilayah Jawa kepada Kika dan Lila. Menurut saya sangat penting memperkenalkan sejarah bangsa kepada anak-anak saya. Tak hanya pandai membaca dari buku tetapi sebisa mungkin bisa berinteraksi langsung dengan obyek sejarah yang diajarkan di sekolah.

Tujuan pertama kami adalah Jepara, tempat kelahiran Kartini. Saya pernah mengatakan kepada Kika supaya menulis seperti Kartini. Belakangan ia memang membaca buku Panggil Aku Kartini Saja, setelah ia mengkhatamkan Tetralogi Pulau Buru-nya Pram.

Perjalanan Solo – Jepara saya tempuh dalam waktu sekitar 4 jam, dengan jalur Solo – Semarang – Demak – Jepara – Kudus – Demak – Semarang – Solo. Kyai Garuda Seta melaju tanpa hambatan, sebab pada pagi hari arus balik lebaran belum terjadi. Tujuan utama ke Jepara sebetulnya ada sedikit urusan bisnis yang telah dirancang jauh-jauh hari, dan mumpung berada di Jepara sekalian muter-muter Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir itu. Lanjut baca…

Share on Facebook