Nostalgia Selokan Mataram dan galaunya Kika

Sabtu kemarin saya menjemput Lila dari asramanya. Ia mendapatkan libur seminggu sebab anak-anak klas 9 pada Ujian Nasional (UN) – semoga mereka yang mulai hari ini berkutat dengan UN diberikan kekuatan lahir-batin untuk selalu menjaga kejujuran – sehingga untuk sementara ia bisa sorak-sorak bergembira. Salah satu acara yang ditunggu-tunggunya adalah main ke Toko Buku Gramedia. Maka, hari Minggu kemarin saya mengantar Lila ke Gramedia Matraman.

***

Beberapa hari yang lalu, Kika menceritakan kegalauan hatinya. Ia membuka percakapan dengan minta pendapat saya bagaimana nekjika pada tahun ini ia ikutan SBMPTN? Hmm, saya paham betul ke mana arah pembicaraan anak wedok saya itu. Rupanya, ia terkena virus galau jurusan. Hal yang sangat lazim melanda para mahasiswa semester-semester awal. Lanjut baca…

Share on Facebook

Belajar kesederhanaan dari Pak Boed

Waktu di JOG kemarin – mumpung fasilitas wifi hotel elok sekali, saya mengajak Kika membuka YouTube dan menyaksikan mBak Najwa mewawancarai Pak Boed: Di Balik Diam Boediono. Saya tahu, Kika sama terharunya seperti saya ketika mendapatkan pelajaran kesederhanaan dari Pak Boed.

Sikap kesederhanaan yang saya ajarkan kepada Kika dan Lila bukan basa-basi. Apalagi moyang kami memang termasuk dalam golongan orang yang sederhana, hidup semadyanya. Mewarisi ilmu kepada anak keturunan adalah nomor satu (bagaimana mau mewarisi harta, wong ndak banyak). Lanjut baca…

Share on Facebook

Earth hour-an di Ngayogyakarta

Tiga hari ke depan saya berada di Jogja, mumpung ada libur panjang. Tujuan utama ke Jogja nengok anak wedok yang kuliah di kota ini sekalian mbantuin dia usang-usung pindahan kosan. Saya nginep di hotel ini, yang tadi malam jam 20.30 – 21.30 melaksanakan earth hour dengan mematikan lampu.

Kika – anak wedok saya yang kuliah di UGM, jika ada pembaca yang belum tahu – kebingungan mengenai pemilu yang akan dilakukan pada tanggal 9 April untuk pileg dan pilpres tanggal 9 Juli nanti. Pemilu kali ini yang pertama baginya, rasanya sayang kalau dilewatkan sebagai golput. Memang sih, ada edaran kalau KPUD Sleman bisa mengakomodasi bagi mahasiswa perantau yang ingin nyoblos di sekitaran kosan.

Sambil menunggu earth hour, kami membuka laptop di kamar hotel dengan fasilitas wifi yang sangat elok kecepatan internetnya untuk menjawab pertanyaan Kika seputaran pemilu.

Saya membuka contoh lembaran kertas suara pemilu 2014.

“Aku kan nggak kenal sama sekali sama calegnya, bagaimana mau nyoblos namanya?” tanya Kika. Lanjut baca…

Share on Facebook