Ora emban cindhe emban siladan

Ora emban cindhe emban siladan adalah pitutur Jawa yang artinya tidak pilih kasih. Pitutur ini sering diterapkan kepada orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Emban berarti menggendong bayi. Cindhe adalah kain selendang yang halus sehingga seorang bayi kalau digendong menggunakan cindhe akan berasa sangat nyaman dan tenteram. Berbeda dengan siladan, benda ini bukan berupa kain tetapi bilah bambu yang tepinya tajam dapat melukai kulit.

Semua orang tua berusaha untuk emban cindhe kepada anak-anaknya.

Share on Facebook

Jadilah kupu-kupu yang indah

Saya terus meyakinkan Kika bahwa ospek-nya UGM itu beda. Sangat berbeda, nDuk! Nanti kamu akan merasakan betapa bangganya kamu sebagai mahasiswa UGM. Saat itu Kika diam, sibuk dengan tugas-tugas yang harus ia selesaikan menjelang dibukanya PPSMB UGM. Dan saya tahu betul ia akan menuliskan pengalamannya mengikuti kegiatan ospek di blog miliknya. Dengan sabar saya menunggu postingan tersebut, dan akhirnya malam ini ia menerbitkan tulisan yang ia beri judul Njiyee…

Astaga, kau harus merasakan sendiri ospek di UGM, dudes, karena ternyata kalau dipikir-pikir ospeknya seru juga meskipun harus lembur ngerjain tugas. Serius. Tapi, aku tidak mau ikut ospek lagi meskipun disumpal pakai tiket masuk The Wizarding World of Harry Potter. Tidak, terima kasih banyak.

Ha…ha…ha… tetap saja ia menyertakan kalimat penolakan terhadap kegiatan ospek. Memang, ia pernah menunjukkan kepada saya sebuah postingan tentang perbedaan pelaksanaan ospek di Indonesia dengan cara-cara yang dilakukan di universitas terkemuka di dunia dalam menyambut mahasiswa baru. Mestinya sudah saatnya Indonesia meninggalkan ospek versi lawas, katanya. Perbedaannya sangat kontras. Saya sepakat dengannya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Merantau

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman / Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri seberang / Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan / Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang (Imam Syafi’i)

Mungkin ini yang dirasakan oleh kedua orang tua saya dulu ketika akhirnya keempat anak lelakinya meninggalkan rumah, merantau ke Jogja untuk meneruskan jenjang sekolah: kesepian.

Semalam, saya melepas Kika berangkat merantau ke Jogja di Stasiun Bandung. Paling tidak, dua puluh empat jam sudah ia meninggalkan rumah. Maka, rumah tipe 36 kami berasa sangat lapang sekarang.

Kenapa ia berangkat dari Bandung?

Alasan utama, Kika mesti pamitan dulu ke adiknya yang seminggu sebelumnya sudah kembali ke asramanya. Saya mengamati betul kebersamaan mereka. Ketika Kika mesti merantau ke Jogja, waktu luang di libur sekolah Lila kemarin betul-betul mereka manfaatkan untuk selalu bersama. Lila yang sudah lebih berpengalaman dalam perantauan sering membagi pengalaman kepada kakaknya. Lila, yang rencananya merantau 1000 malam, sudah melakoni sepertiganya. Lanjut baca…

Share on Facebook