Proyek mangkrak 2017

Sebetulnya tidak ada istilah sibuk, tetapi karena saya sering salah dalam menentukan skala prioritas sehingga banyak pekerjaan menjadi kategori urgent. Tak heran ada beberapa proyek yang sudah saya rencanakan selesai di tahun 2017 ini menjadi mangkrak, tak terurus.

Proyek Menerbitkan 3 (tiga) Buku

Tahun 2017 ini kegiatan saya menulis di The Padeblogan menurun drastis. Kebiasaan menulis 300 kata per hari sementara ditenggelamkan oleh urusan pekerjaan yang lain. Bahkan draft ketiga buku yang akan saya terbitkan di tahun 2017 sudah tersimpan rapi di sebuah folder, tinggal edit sedikit di sana-sini. Tetapi ternyata hanya satu buku yang bisa saya terbitkan:  Pria Pendongeng dan Hikayat 27 Malam (Halaman Moeka Publishing Maret 2017).

Apakah proyek menerbitkan dua  buku berikutnya akan tetap mangkrak atau akan saya lanjutkan di tahun 2018? Penginnya sih, dalam semester pertama kedua buku tersebut sudah terbit. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sandal jepit

“Maju, silakan di sini. Enggak apa-apa pakai sandal jepit,” pinta Jokowi.

Dikutip dari sini

Zaman SD saya dulu jamak anak-anak sekolah masih banyak yang nyeker, selain memang tak punya sepatu kebiasaan nyeker lebih praktis untuk bermain saat jam istirahat. Tetapi tidak sedikit dari teman-teman saya yang bersepatu. Kalau saya sih, ikutan nyeker. Nanti ketika saya klas 5 dan 6 mulai rutin bersepatu.

Seingat saya, jarang – bahkan tidak ada, memakai sandal jepit pada saat sekolah. Lebih baik nyeker. Cerita tentang sandal jepit, di rumah sandal jepit dipakai bersama. Saking awetnya kadang di bagian tumit sampai berlubang. Kalau tali sandal putus (biasanya bagian ujung tali yang dijepit jari) akan ‘diganjal’ menggunakan peniti. Lanjut baca…

Share on Facebook

Ngantuk berat

Saya bergegas mencari taksi yang kebetulan banyak lewat atau berhenti di depan hotel. Tujuan saya menuju Jabal Rahmah – Arafah. Saya berkomunikasi dengan sopir taksi dengan campuran sedikit bahasa Inggris – Indonesia – Arab, lebih banyak bahasa Tarzan-nya.

Masya Allah – dua kata ini yang sering terucap dari mulutnya disertai dengan membuka tangan. Selain menjadi sopir, kali ini ia merangkap menjadi guide bagi saya. Ia berasal dari Yaman, sudah 13 tahun tinggal di Mekkah dan Jeddah.

Dari Hadramaut, tepatnya. Saya bilang di Indonesia para habaib juga dari Hadramaut. Kemudian ia menyebut nama-nama habaib terkenal di Indonesia. Masya Allah. Ketika saya tanya apakah pernah ke Jakarta, ia bilang belum pernah ke Indonesia. Lanjut baca…

Share on Facebook