Bidadari Depresi

Orang bijak pernah mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya, ungkapan ini untuk mengibaratkan kalau menilai seseorang jangan dari luarnya, harus mengenal bagian dalamnya: sifat dan wataknya. Tapi bagaimana kalau buku itu dari judulnya saja tidak menarik, covernya biasa-biasa saja dan dibungkus plastik lagi, untuk sekedar mengintip daftar isinya saja susahnya setengah mati. Sementara komentar dari orang-orang terkenal, katanya buku itu sangat bagus isinya. Apa iya langsung percaya saja kata orang-orang itu lalu kita membeli bukunya?

Untuk mengenal orang lain lebih dalam, mau tidak mau kita harus bergaul dan berkomunikasi dengannya. Kesan pertama yang cenderung negatif, tetapi begitu mengenal dekat ternyata dia merupakan teman yang sangat menyenangkan. Jadi, masih sesuaikah ungkapan jangan menilai buku dari sampulnya untuk menilai seseorang?

Anda tentu mengenal kisah Jaka Tarub dan Bidadari, kan? Suatu hari, Jaka Tarub berburu di sekitar danau (yang ternyata danau itu merupakan tempat favorit para bidadari dari kahyangan mandi dan berenang ketika mereka kegerahan di kahyangan sana). Lanjut baca…

Share on Facebook

Silet

Aktivitas Haji Romli selepas dhuha adalah pergi ke kebunnya. Nanti pulang ke rumah menjelang lohor. Hampir semua orang di kampungnya hapal benar dengan jadual Haji Romli tersebut. Di belokan jalan menuju kebunnya, tumbuh pohon jambu yang sedang berbuah.

Pagi itu, ketika melewati rimbunnya pohon jambu itu kepala Haji Romli kejatuhan buah jambu, untung buahnya cuma kecil saja tapi itu sudah membuatnya terkejut. Serta merta dia dongakkan kepala untuk melihat ke atas. Astaga, Haji Romli lebih terkejut lagi, dilihatnya ada anak perempuan belum genap sepuluh tahun nangkring di atas pohon sedang memetik buah jambu tanpa memakai celana dalam. Anak yang memakai rok lusuh itu disuruh turun.

“Nih, uang lima puluh ribu. Bilang ke emak lu, supaya dibelikan celana dalam. Sudah pulang sana,” kata Haji Romli sambil bersungut-sungut. Anak itu pun pulang untuk menjalankan amanat Haji Romli.

Menjelang lohor. Haji Romli pulang dari kebun, dan melewati pohon jambu itu lagi dan dia ingat kejadian pagi tadi. Dia pun mendongakkan kepala ke atas pohon. “Astaghfirullah….!!!!” Teriak Haji Romli kaget setengah mati begitu dilihatnya emak si anak perempuan yang tadi pagi itu sedang nangkring dengan santainya di satu dahan tanpa memakai celana dalam. Haji Romli minta supaya dia turun.

“Nih, ada uang lima ribu” kata Haji Romli sambil mengulurkan selembar uang. Perempuan itu ragu-ragu menerimanya, dan berkata, “Kok cuma lima ribu sih Pak Haji, tadi pagi anak saya dikasih lima puluh ribu.”

“Emang harga silet berapa… lima ribu dapat lima tuh!!” kata Haji Romli sambil berlalu dari tempat itu.

Perempuan itu terbengong-bengong, tadi pagi anaknya dikasih lima puluh ribu untuk beli celana dalam, sedangkan dia kok cuma dikasih lima ribu dan disuruh beli silet ya?

Sekarang ini betapa banyak orang yang mencontek atau ikut-ikutan melakukan sesuatu hal tanpa didasari dengan ilmu. Contoh paling nyata yang bisa disajikan adalah di dunia bisnis.

Anda pasti ingat bisnis jual beli “daun” gelombang cinta yang bernilai milyaran itu kan? Siapa paling untung? Pasti orang yang pertama, sedangkan para pengikut bernasib tidak sebaik generasi pertama. Bahkan tidak sedikit yang buntung. Contoh lain, bisnis MLM. Pertanyaan yang sama : siapa yang paling untung? Betapa banyak downliner yang gagal di tengah jalan, hanya karena mereka ikut-ikutan dan iseng-iseng saja. Atau yang lagi ngetren saat ini mendapatkan duit dari internet, banyak orang ramai-ramai mengikuti jejak para pendahulu yang katanya telah mendapatkan puluhan juta rupiah per harinya. Hasilnya? Dapat seribu rupiah sehari saja sudah untung.

Sekali lagi, kalau mau ikut-ikutan dasari dengan ilmu!

Share on Facebook

Gamang hati prajurit Satpol PP

Apel pagi sebentar lagi dimulai. Aku dan teman-teman sudah berjajar rapi. Tidak henti-hentinya aku rapikan pakaian seragam kebanggaanku. Seragam personil Satuan Polisi Pamong Praja yang biasa disebut dengan Satpol PP.

Lihatlah penampilanku, gagah seperti polisi dan perkasa bagai tentara. Tugas utamaku adalah memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah. Aku tidak peduli dengan suara-suara sumbang tentang tingkah laku dan sepak terjangku dan teman-teman ketika menertibkan sesuatu. Aku hanya menjalankan tugas yang dibebankan di atas pundakku.

Jadi personil Satpol PP harus tebal telinga, tebal muka, dan tebal kulit. Cacian dan makian jadi santapan sehari-hari. Tidak jarang, aku harus siap berkelahi dengan masyarakat yang aku tertibkan.

Terdengar aba-aba siap, tanda apel sudah dimulai. Selesai laporan, komandan memberikan arahan apa yang harus kami lakukan hari ini.

“Seperti yang telah kalian ketahui, dua hari lagi kota kita akan mendapatkan kunjungan bapak presiden. Berdasarkan perintah bapak bupati, kota harus tertib dan bersih dari pengemis, bangunan liar dan pedagang kaki lima. Kemarin kita sudah membongkar bangunan liar di sekitar gerbang masuk kota kita. Hari ini, pembongkaran kita perluas sampai di tepi sungai, karena menurut rencana bapak presiden ingin menyaksikan proyek kali bersih yang dicanangkan bapak bupati beberapa waktu lalu. Kalian siap?”

“Siapppp!!!” jawab kami serentak.

Kami naik ke mobil patroli dan segera melaju ke wilayah yang akan ditertibkan. Aku duduk tegak di bak belakang, tanganku menggenggam sebatang tongkat dari bambu sebagai senjata andalanku. Deg, perasaanku mulai tidak enak ketika mobil berbelok ke arah wilayah perkampungan orang tuaku. Aku semakin gelisah saja, dari kejauhan aku melihat ada dua bulldozer sudah terparkir siap meratakan rumah-rumah kumuh di bantaran sungai.

Aku melompat dari bak mobil, segera menghampiri teman-temanku yang sudah duluan sampai di tempat itu. Mereka sedang membentuk pagar betis untuk melindungi bulldozer yang akan dirusak oleh massa. Di antara kerumunan massa, aku melihat bapak dan ibuku ada di sana, ikut memprotes rencana penertiban rumah-rumah kumuh.

Hatiku miris menyaksikan perjuangan bapak dan ibuku mempertahankan rumahnya. Aku ingin segera berlalu dari tempat itu, tapi terlambat. Bapak sudah melihatku. Dia gandeng tangan ibu, tergopoh-gopoh menghampiriku.

“Kamu tega pada orang tuamu sendiri? Kamu tahu kan, berapa uang yang bapak gunakan untuk menyuap komandanmu supaya kamu diterima jadi Satpol PP? Sampai sekarang bahkan belum lunas hutang bapak itu. Lakukan sesuatu. Bela harga diri bapak dan ibumu yang sudah tua ini!” bentak bapakku.

Aku tercekat, diam seribu bahasa. Bulldozer mulai mengamuk, meluluhlantakkan bangunan-bangunan semi permanen, termasuk rumah di mana tempat aku dilahirkan.

Apa yang harus aku lakukan, kawan?

Share on Facebook