Mas Bowo

Di era 1984-an lalu, saya mempunyai seorang idola namanya Bowo. Dia ini adalah ikon Srimulat di era itu, yang tayang di TVRI Surabaya. Di panggung dia kerap didapuk sebagai seorang batur dan selalu dikuyo-kuyo oleh Bambang Gentolet, yang berperan jadi ndoro kakungnya. Mas Bowo (kini sudah almarhum) memiliki gaya yang khas, yakni bibirnya dibiarkan selalu ngowoh supaya terlihat tambah ndower, karena memang bibir bagian bawahnya tebal dan besar. Dari referensi yang saya baca, mas Bowo ini hidupnya sederhana, bahkan pernah menjadi sopir bemo di Surabaya. Dari hidup di embong karirnya sebagai seniman dimulai dengan membentuk grup lawak Ublik Yunior, sebelum  akhirnya bergabung dengan Srimulat di tahun 1980 sampai tahun 2006. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bidadari Depresi

Orang bijak pernah mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya, ungkapan ini untuk mengibaratkan kalau menilai seseorang jangan dari luarnya, harus mengenal bagian dalamnya: sifat dan wataknya. Tapi bagaimana kalau buku itu dari judulnya saja tidak menarik, covernya biasa-biasa saja dan dibungkus plastik lagi, untuk sekedar mengintip daftar isinya saja susahnya setengah mati. Sementara komentar dari orang-orang terkenal, katanya buku itu sangat bagus isinya. Apa iya langsung percaya saja kata orang-orang itu lalu kita membeli bukunya?

Untuk mengenal orang lain lebih dalam, mau tidak mau kita harus bergaul dan berkomunikasi dengannya. Kesan pertama yang cenderung negatif, tetapi begitu mengenal dekat ternyata dia merupakan teman yang sangat menyenangkan. Jadi, masih sesuaikah ungkapan jangan menilai buku dari sampulnya untuk menilai seseorang?

Anda tentu mengenal kisah Jaka Tarub dan Bidadari, kan? Suatu hari, Jaka Tarub berburu di sekitar danau (yang ternyata danau itu merupakan tempat favorit para bidadari dari kahyangan mandi dan berenang ketika mereka kegerahan di kahyangan sana). Lanjut baca…

Share on Facebook

Silet

Aktivitas Haji Romli selepas dhuha adalah pergi ke kebunnya. Nanti pulang ke rumah menjelang lohor. Hampir semua orang di kampungnya hapal benar dengan jadual Haji Romli tersebut. Di belokan jalan menuju kebunnya, tumbuh pohon jambu yang sedang berbuah.

Pagi itu, ketika melewati rimbunnya pohon jambu itu kepala Haji Romli kejatuhan buah jambu, untung buahnya cuma kecil saja tapi itu sudah membuatnya terkejut. Serta merta dia dongakkan kepala untuk melihat ke atas. Astaga, Haji Romli lebih terkejut lagi, dilihatnya ada anak perempuan belum genap sepuluh tahun nangkring di atas pohon sedang memetik buah jambu tanpa memakai celana dalam. Anak yang memakai rok lusuh itu disuruh turun.

“Nih, uang lima puluh ribu. Bilang ke emak lu, supaya dibelikan celana dalam. Sudah pulang sana,” kata Haji Romli sambil bersungut-sungut. Anak itu pun pulang untuk menjalankan amanat Haji Romli.

Menjelang lohor. Haji Romli pulang dari kebun, dan melewati pohon jambu itu lagi dan dia ingat kejadian pagi tadi. Dia pun mendongakkan kepala ke atas pohon. “Astaghfirullah….!!!!” Teriak Haji Romli kaget setengah mati begitu dilihatnya emak si anak perempuan yang tadi pagi itu sedang nangkring dengan santainya di satu dahan tanpa memakai celana dalam. Haji Romli minta supaya dia turun.

“Nih, ada uang lima ribu” kata Haji Romli sambil mengulurkan selembar uang. Perempuan itu ragu-ragu menerimanya, dan berkata, “Kok cuma lima ribu sih Pak Haji, tadi pagi anak saya dikasih lima puluh ribu.”

“Emang harga silet berapa… lima ribu dapat lima tuh!!” kata Haji Romli sambil berlalu dari tempat itu.

Perempuan itu terbengong-bengong, tadi pagi anaknya dikasih lima puluh ribu untuk beli celana dalam, sedangkan dia kok cuma dikasih lima ribu dan disuruh beli silet ya?

Sekarang ini betapa banyak orang yang mencontek atau ikut-ikutan melakukan sesuatu hal tanpa didasari dengan ilmu. Contoh paling nyata yang bisa disajikan adalah di dunia bisnis.

Anda pasti ingat bisnis jual beli “daun” gelombang cinta yang bernilai milyaran itu kan? Siapa paling untung? Pasti orang yang pertama, sedangkan para pengikut bernasib tidak sebaik generasi pertama. Bahkan tidak sedikit yang buntung. Contoh lain, bisnis MLM. Pertanyaan yang sama : siapa yang paling untung? Betapa banyak downliner yang gagal di tengah jalan, hanya karena mereka ikut-ikutan dan iseng-iseng saja. Atau yang lagi ngetren saat ini mendapatkan duit dari internet, banyak orang ramai-ramai mengikuti jejak para pendahulu yang katanya telah mendapatkan puluhan juta rupiah per harinya. Hasilnya? Dapat seribu rupiah sehari saja sudah untung.

Sekali lagi, kalau mau ikut-ikutan dasari dengan ilmu!

Share on Facebook