Ponari dan Petir Ki Ageng Sela

Dalam Babad Tanah Jawi tersebutlah nama Ki Ageng Sela, yang bagi masyarakat Jawa diyakini sebagai tokoh yang bisa menangkap petir/halilintar. Diceritakan, selesai shalat ashar Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Sore itu cuaca mendung, pertanda akan segera turun hujan. Ki Ageng Sela mulai mencangkul sawahnya, tidak menghiraukan mendung di langit. Gerimis pun segera turun, tetapi Ki Ageng Sela tidak berniat menghentikan pekerjaannya.

Langit yang mulai gelap, samar-samar terlihat sinar yang menyilaukan matanya, ada kilat yang menyambar bumi. Ki Ageng Sela terkejut, lalu tampaklah seorang laki-laki tua. Dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya, ditangkaplah lelaki tua itu. Waktu tertangkap oleh tangan Ki Ageng Sela terdengar suara yang menggelegar. Rupanya petir yang menyambar bumi tadi yang menjelma menjadi lekaki tua yang ditangkap Ki Ageng Sela.

Petir itu lalu diikat pada sebatang pohon Gadri (ada sementara kalangan meyakini diikat pada pohon Jarak), pohon tempat Ki Ageng Sela berlindung ketika melihat petir menyambar bumi. Ki Ageng Sela kembali melanjutkan pekerjaannya. Petir meronta-ronta minta dilepaskan. Ki Ageng Sela tidak bergeming.

Esoknya, petir diserahkan kepada Sultan Trenggana, penguasa Demak saat itu. Petir dimasukkan ke dalam kerangkeng besi, ditempatkan di tengah alun-alun supaya setiap orang dapat menyaksikan ujud petir yang sesungguhnya. Tanpa diduga oleh siapapun datanglah seorang perempuan tua membawa kendi yang berisi air. Dengan cepat dia menyiramkan air kendi itu ke dalam kerangkeng besi tempat petir dikurung. Maka seketika terdengar suara yang memekakkan telinga yang diikuti lenyapnya kedua orang tua tersebut.

Kini, di tahun 2009, petir yang dulu ditangkap Ki Ageng Sela “mengamuk” sampai menewaskan 4 orang. Semua itu gara-gara sebuah batu yang dilempar oleh petir kemudian ditemukan oleh seorang bocah asal Jombang yang bernama Ponari. Di tangannya, batu itu menjadi batu bertuah. Air yang terkena celupan batu, diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Ribuan orang datang ke rumah Ponari, minta diobati. Predikat dukun cilik segera tersemat di bocah yang masih sekolah dasar itu. Selalu saja ada orang yang pandai memanfaatkan keadaan. Ponari tereksploitasi oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi. Hak asasi Ponari terinjak-injak. Ponari dielu-elukan sebagai pahlawan, dengan batu ajaibnya jalan-jalan di desanya diperkeras, pendapatan masyarakat naik karena terbuka berbagai macam lapangan pekerjaan (tukang parkir, jualan air mineral, tukang ojek, dll). Batu Ponari menjadi sebuah kesyirikan baru. Orang berdesak-desakkan minta lebih dulu diobati Ponari, saling injak, saling sikut, jatuh dan tewas.

Polisi segera bertindak, menutup praktek Ponari. Alhamdulillah, meskipun terlambat. Kenapa orang-orang di sekitar Ponari tidak belajar dari kisah Ki Ageng Sela. Menangkap petir dan diikatkan di pohon Gadri, sebagai kiasan kalau Ki Ageng Sela itu contoh orang yang pandai mengendalikan hawa nafsunya. Nafsu manusia yang selalu menggelegar seperti halilintar.

Share on Facebook

Anak Muda Membangun Nusantara

Satu lagi mahasiswa jadi korban ospek, kali ini mahasiswa ITB tewas saat ospek. Apakah kegiatan ospek harus dengan kekerasan? Apa sih sebenarnya tujuan ospek itu? Bukankah maksud utama kegiatan ospek untuk orientasi dan pengenalan kampus? Sebetulnya sangat sederhana : cuma pengenalan kampus! Materi yang harus diberikan kepada mahasiswa baru tidak terlepas dari isi perut kampus yang bersangkutan, misalnya bagaimana sistem perkuliahannya, siapa-siapa saja yang menjadi staf pengajarnya, nanti kalau lulus bisa bekerja di bidang apa saja, dan sebagainya yang tentunya tidak ada unsur kekerasan di sana.

Bentuk ospek paling ideal mestinya berupa diskusi panel. Sejak awal mahasiswa dibiasakan melakukan diskusi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul, bukan dengan ototnya tetapi dengan otaknya : Lanjut baca…

Share on Facebook

Primbon Jawa, Pancen Oye!!

Saya bukan mBah Roso yang meramal nasib orang dari weton dan pasaran hari lahir, yang bisa didapatkan dengan menulis SMS ke reg spasi manjur kirim ke sekian-sekian. Tapi ada saja teman saya yang minta dihitungkan “hari baik” untuk menentukan pindah rumah, hajatan atau kecocokan perjodohan. Tentu saja berdasarkan hitungan Primbon Jawa.

Pendapat saya, primbon jawa disusun oleh para waskita atawa pujangga atawa empu pada jaman dulu berdasarkan pengamatan dan pencatatan pertanda dari alam atau dari pengalaman orang-orang yang mengalami suatu peristiwa, kemudian para empu mencatat di benaknya. Misalnya, jika ada lintang kemukus terlihat di angkasa dan jatuh di suatu wilayah, maka akan terjadi peristiwa tragis yang memakan banyak korban jiwa. Atau, jika seseorang bermimpi kejatuhan bulan, dia akan menjadi seseorang pemimpin. Primbon itu semacam ensiklopedi kehidupan. Lanjut baca…

Share on Facebook