Primbon Capres-Cawapres 2009

Mencermati berita terjadinya perselingkuhan politik untuk mendapatkan calon ideal capres dan cawapres yang akan bertanding di arena pilpres Juli nanti, akhirnya KPU menerima pendaftaran tiga pasang calon presiden-wakil presiden.  Pasangan yang pertama datang adalah Jusuf Kalla-Wiranto, menyusul Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, kemudian Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

TV di kamar kerja saya on 24 jam, bahkan saya bela-belain menunggu hasil pembicaraan kubu Mega dan kubu Prabowo yang hampir tengah malam mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres. Hujan deras, petir menggelegar, menyambar antena TV saya, terjadi korslet dan TV pun meledak, dentumannya membuat saya kaget dan jatuh pingsan. Aneh bin ajaib, begitu siuman seolah saya bisa membaca masa depan. Secara telepati saya bisa berkomunikasi dengan Mama Laurent, Ki Joko Bodo, bahkan dengan mBah Marijan. Otak saya penuh dengan memori ketiga pasangan capres-cawapres itu. Rupanya saya telah menjelma menjadi dukun tiban! Ponari jadi dukun tiban karena petir Ki Ageng Sela menyentuh sebuah batu, sedangkan kasus saya petir itu merambati TV saya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Belajar Konsisten

Sikap konsisten ditandai dengan apa yang dilihat, apa yang dipikirkan dan apa yang diucapkan adalah SAMA. Pada hakekatnya, sifat dasar manusia adalah konsisten. Jika kita melihat objek yang tidak konsisten, secara otomatis mata, pikiran dan bibir kita akan menolak ketidakkonsistenan itu, yang ditandai dengan otak yang tiba-tiba menjadi “telmi”. Anda bisa membuktikan pernyataan saya di atas. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bidadari Depresi

Orang bijak pernah mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya, ungkapan ini untuk mengibaratkan kalau menilai seseorang jangan dari luarnya, harus mengenal bagian dalamnya: sifat dan wataknya. Tapi bagaimana kalau buku itu dari judulnya saja tidak menarik, covernya biasa-biasa saja dan dibungkus plastik lagi, untuk sekedar mengintip daftar isinya saja susahnya setengah mati. Sementara komentar dari orang-orang terkenal, katanya buku itu sangat bagus isinya. Apa iya langsung percaya saja kata orang-orang itu lalu kita membeli bukunya?

Untuk mengenal orang lain lebih dalam, mau tidak mau kita harus bergaul dan berkomunikasi dengannya. Kesan pertama yang cenderung negatif, tetapi begitu mengenal dekat ternyata dia merupakan teman yang sangat menyenangkan. Jadi, masih sesuaikah ungkapan jangan menilai buku dari sampulnya untuk menilai seseorang?

Anda tentu mengenal kisah Jaka Tarub dan Bidadari, kan? Suatu hari, Jaka Tarub berburu di sekitar danau (yang ternyata danau itu merupakan tempat favorit para bidadari dari kahyangan mandi dan berenang ketika mereka kegerahan di kahyangan sana). Lanjut baca…

Share on Facebook