Di Mana-mana Ada Cemburu

Cinta itu buta. Kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat, kata Gombloh dalam salah satu lagunya. Karena terlalu cinta, sumbu api cemburu di hati pun sangat pendek. Begitu tersulut api,  langsung meledak. Pikiran kalut, jantung berdetak tidak teratur, dan semua yang dilihat jadi tiak sempurna di matanya. Tai kucing bener-bener tai kucing bahkan lebih bau dari aroma aslinya.

Kalau sudah cemburu mau apalagi? Tidak ada larangan untuk cemburu. Salah satu fitrah manusia diberi cemburu. Tetapi, apa pun kalau berlebih tidak bagus. Semua harus ada takaran dan ukurannya, termasuk dalam hal cemburu.

Tidak semua orang bisa mengelola cemburu di hatinya. Memang sangat sulit menyeimbangkan perasaan di hati dan pikiran. Masing-masing mempunyai tingkat sensitivitas cemburu. Kalau orang mempunyai tingkat sensitivitas rendah, tidak gampang cemburu tetapi sebaliknya yang tingkat sensivitasnya tinggi, semua yang dilakukan oleh orang yang dicintai itu membuatnya cemburu. Di mana-mana ada cemburu. Lanjut baca…

Share on Facebook

Primbon Jawa, Pancen Oye!!

Saya bukan mBah Roso yang meramal nasib orang dari weton dan pasaran hari lahir, yang bisa didapatkan dengan menulis SMS ke reg spasi manjur kirim ke sekian-sekian. Tapi ada saja teman saya yang minta dihitungkan “hari baik” untuk menentukan pindah rumah, hajatan atau kecocokan perjodohan. Tentu saja berdasarkan hitungan Primbon Jawa.

Pendapat saya, primbon jawa disusun oleh para waskita atawa pujangga atawa empu pada jaman dulu berdasarkan pengamatan dan pencatatan pertanda dari alam atau dari pengalaman orang-orang yang mengalami suatu peristiwa, kemudian para empu mencatat di benaknya. Misalnya, jika ada lintang kemukus terlihat di angkasa dan jatuh di suatu wilayah, maka akan terjadi peristiwa tragis yang memakan banyak korban jiwa. Atau, jika seseorang bermimpi kejatuhan bulan, dia akan menjadi seseorang pemimpin. Primbon itu semacam ensiklopedi kehidupan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Jadi Caleg Kok Tidak Pede

Salah satu pemandangan yang jamak saya lihat sepanjang perjalanan ke kantor adalah berjejernya spanduk, poster dan baliho gambar-gambar caleg yang akan berebut kursi legislatif di tahun 2009. Kalau saya amati, slogan-slogan mereka hampir seragam. Berjuang untuk kepentingan rakyat, bahkan ada beberapa caleg yang pernah duduk di periode sebelumnya menjual “kemiskinan” rakyat. Lha, pada saat mereka menjadi pengambil keputusan dan kebijakan apa yang mereka perjuangkan untuk rakyat? 

Berbagai macam gaya dapat kita saksikan di sana. Ada yang tersenyum, ada yang termenung (caleg ini menyangga dagunya, wajah tidak melihat ke kamera), ada juga yang tegang. Untuk saat-saat sekarang masih saya lihat beberapa ucapan “selamat idul fitri 1429 H” dan ditambahi embel-embel di belakang kalimat itu, mohon doa restu untuk maju jadi caleg, dengan menyebutkan nama dan daerah pilihan mereka. 

Kalau saya amati lebih jauh, para caleg ini rupanya kurang pede, entah karena tidak mampu atau tidak dikenal masyarakat luas. Foto atau gambar mereka tidak sendirian, tetapi dengan background gambar seorang perempuan berbadan makmur. Barangkali mereka akan mengatakan, ini loh saya, didukung oleh tokoh yang fotonya ada di belakang saya. 

Ya, tidak apa-apa sih. Tapi rakyat pasti sudah cerdas dalam memilih wakilnya, siapa yang layak duduk mewakili mereka di legislatif nanti. Seleksi alam akan berlaku pada Pemilu 2009.

Share on Facebook