Gratis

Istilah gratis nenurut Tesaurus Bahasa Indonesia-nya Eko Endarmoko, berarti cuma-cuma, percuma, prodeo, bebas. Tapi dalam definisi yang dipahami sehari-hari gratis berarti tidak bayar. Semua orang senang mendapatkan sesuatu yang gratis, baik yang kaya maupun orang tidak berpunya. Bahkan untuk mendapatkan gratisan orang rela antri berdesak-desakan di bawah hujan atau terik matahari.

Esensi gratis sebenarnya bersifat semu, tidak benar-benar gratis. Lanjut baca…

Share on Facebook

Divide et Impera

Penjajahan kolonial Belanda selama 350 tahun bercokol di Nusantara meninggalkan banyak warisan buruk kepada pemilik negeri yang indah ini salah satunya berupa politik adu domba dan divide et impera. Sejarah mencatat, kerajaan Mataram Islam tercerai berai akibat peran Kompeni dalam mempengaruhi tata pemerintahan Mataram saat itu dengan politik adu domba dan divide et impera-nya. Dan peristiwa sejarah di masa lalu itu bergulir kembali di depan mata kita sekarang ini. Aktor intelektual yang bermain di zaman ini adalah kesamaan kepentingan.

Siapa yang sangka, sehari sebelumnya Partai 23 dan Partai 31 menyatakan kalau mereka solid paling tidak sampai Oktober 2009 nanti. Tetapi, esok harinya ternyata mereka pecah kongsi. Di televisi rakyat bisa menyaksikan dagelan gaya mataraman yang tidak lucu, mereka saling klaim memajukan negeri ini.

Tidak jauh beda dengan caleg yang akan bertanding memperebutkan kursi di Pemilu bulan depan. Saksikan ulah mereka, baru dalam tahap memasang atribut partai/caleg sesama teman saja sudah berantem dan saling merusak atribut pihak lawan. Sungguh luar biasa banyak jumlah partai di negeri ini : 38 partai! Ah, seperti merk Puyer 38 saja. Semua itu karena politik warisan kompeni. Hebat benar politik adu domba dan devide et impera itu, Partai 2 yang di zaman orba sangat perkasa saja bisa berantakan menjadi puluhan partai. Semua ingin menikmati kue kekuasaan. Kalau semua ingin duduk di kursi empuk, terus rakyat dapat apa?

Pasca pemilu nanti perlu lebih diwaspadai, caleg picik yang tidak mendapatkan kursi akan mengamuk mengobrak-abrik tatanan, tidak mau menerima kekalahannya.

Share on Facebook

Ponari dan Petir Ki Ageng Sela

Dalam Babad Tanah Jawi tersebutlah nama Ki Ageng Sela, yang bagi masyarakat Jawa diyakini sebagai tokoh yang bisa menangkap petir/halilintar. Diceritakan, selesai shalat ashar Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Sore itu cuaca mendung, pertanda akan segera turun hujan. Ki Ageng Sela mulai mencangkul sawahnya, tidak menghiraukan mendung di langit. Gerimis pun segera turun, tetapi Ki Ageng Sela tidak berniat menghentikan pekerjaannya.

Langit yang mulai gelap, samar-samar terlihat sinar yang menyilaukan matanya, ada kilat yang menyambar bumi. Ki Ageng Sela terkejut, lalu tampaklah seorang laki-laki tua. Dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya, ditangkaplah lelaki tua itu. Waktu tertangkap oleh tangan Ki Ageng Sela terdengar suara yang menggelegar. Rupanya petir yang menyambar bumi tadi yang menjelma menjadi lekaki tua yang ditangkap Ki Ageng Sela.

Petir itu lalu diikat pada sebatang pohon Gadri (ada sementara kalangan meyakini diikat pada pohon Jarak), pohon tempat Ki Ageng Sela berlindung ketika melihat petir menyambar bumi. Ki Ageng Sela kembali melanjutkan pekerjaannya. Petir meronta-ronta minta dilepaskan. Ki Ageng Sela tidak bergeming.

Esoknya, petir diserahkan kepada Sultan Trenggana, penguasa Demak saat itu. Petir dimasukkan ke dalam kerangkeng besi, ditempatkan di tengah alun-alun supaya setiap orang dapat menyaksikan ujud petir yang sesungguhnya. Tanpa diduga oleh siapapun datanglah seorang perempuan tua membawa kendi yang berisi air. Dengan cepat dia menyiramkan air kendi itu ke dalam kerangkeng besi tempat petir dikurung. Maka seketika terdengar suara yang memekakkan telinga yang diikuti lenyapnya kedua orang tua tersebut.

Kini, di tahun 2009, petir yang dulu ditangkap Ki Ageng Sela “mengamuk” sampai menewaskan 4 orang. Semua itu gara-gara sebuah batu yang dilempar oleh petir kemudian ditemukan oleh seorang bocah asal Jombang yang bernama Ponari. Di tangannya, batu itu menjadi batu bertuah. Air yang terkena celupan batu, diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Ribuan orang datang ke rumah Ponari, minta diobati. Predikat dukun cilik segera tersemat di bocah yang masih sekolah dasar itu. Selalu saja ada orang yang pandai memanfaatkan keadaan. Ponari tereksploitasi oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan pribadi. Hak asasi Ponari terinjak-injak. Ponari dielu-elukan sebagai pahlawan, dengan batu ajaibnya jalan-jalan di desanya diperkeras, pendapatan masyarakat naik karena terbuka berbagai macam lapangan pekerjaan (tukang parkir, jualan air mineral, tukang ojek, dll). Batu Ponari menjadi sebuah kesyirikan baru. Orang berdesak-desakkan minta lebih dulu diobati Ponari, saling injak, saling sikut, jatuh dan tewas.

Polisi segera bertindak, menutup praktek Ponari. Alhamdulillah, meskipun terlambat. Kenapa orang-orang di sekitar Ponari tidak belajar dari kisah Ki Ageng Sela. Menangkap petir dan diikatkan di pohon Gadri, sebagai kiasan kalau Ki Ageng Sela itu contoh orang yang pandai mengendalikan hawa nafsunya. Nafsu manusia yang selalu menggelegar seperti halilintar.

Share on Facebook