Anak Muda Membangun Nusantara

Satu lagi mahasiswa jadi korban ospek, kali ini mahasiswa ITB tewas saat ospek. Apakah kegiatan ospek harus dengan kekerasan? Apa sih sebenarnya tujuan ospek itu? Bukankah maksud utama kegiatan ospek untuk orientasi dan pengenalan kampus? Sebetulnya sangat sederhana : cuma pengenalan kampus! Materi yang harus diberikan kepada mahasiswa baru tidak terlepas dari isi perut kampus yang bersangkutan, misalnya bagaimana sistem perkuliahannya, siapa-siapa saja yang menjadi staf pengajarnya, nanti kalau lulus bisa bekerja di bidang apa saja, dan sebagainya yang tentunya tidak ada unsur kekerasan di sana.

Bentuk ospek paling ideal mestinya berupa diskusi panel. Sejak awal mahasiswa dibiasakan melakukan diskusi dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul, bukan dengan ototnya tetapi dengan otaknya : Lanjut baca…

Share on Facebook

Di Mana-mana Ada Cemburu

Cinta itu buta. Kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat, kata Gombloh dalam salah satu lagunya. Karena terlalu cinta, sumbu api cemburu di hati pun sangat pendek. Begitu tersulut api,  langsung meledak. Pikiran kalut, jantung berdetak tidak teratur, dan semua yang dilihat jadi tiak sempurna di matanya. Tai kucing bener-bener tai kucing bahkan lebih bau dari aroma aslinya.

Kalau sudah cemburu mau apalagi? Tidak ada larangan untuk cemburu. Salah satu fitrah manusia diberi cemburu. Tetapi, apa pun kalau berlebih tidak bagus. Semua harus ada takaran dan ukurannya, termasuk dalam hal cemburu.

Tidak semua orang bisa mengelola cemburu di hatinya. Memang sangat sulit menyeimbangkan perasaan di hati dan pikiran. Masing-masing mempunyai tingkat sensitivitas cemburu. Kalau orang mempunyai tingkat sensitivitas rendah, tidak gampang cemburu tetapi sebaliknya yang tingkat sensivitasnya tinggi, semua yang dilakukan oleh orang yang dicintai itu membuatnya cemburu. Di mana-mana ada cemburu. Lanjut baca…

Share on Facebook

Primbon Jawa, Pancen Oye!!

Saya bukan mBah Roso yang meramal nasib orang dari weton dan pasaran hari lahir, yang bisa didapatkan dengan menulis SMS ke reg spasi manjur kirim ke sekian-sekian. Tapi ada saja teman saya yang minta dihitungkan “hari baik” untuk menentukan pindah rumah, hajatan atau kecocokan perjodohan. Tentu saja berdasarkan hitungan Primbon Jawa.

Pendapat saya, primbon jawa disusun oleh para waskita atawa pujangga atawa empu pada jaman dulu berdasarkan pengamatan dan pencatatan pertanda dari alam atau dari pengalaman orang-orang yang mengalami suatu peristiwa, kemudian para empu mencatat di benaknya. Misalnya, jika ada lintang kemukus terlihat di angkasa dan jatuh di suatu wilayah, maka akan terjadi peristiwa tragis yang memakan banyak korban jiwa. Atau, jika seseorang bermimpi kejatuhan bulan, dia akan menjadi seseorang pemimpin. Primbon itu semacam ensiklopedi kehidupan. Lanjut baca…

Share on Facebook