Satron #1

Kemarin – selama seminggu, Lik Sukar liburan tahun baru sekitaran SCO-JOG. Seperti kebiasaannya kalau meninggalkan rumah cukup lama, ia akan berpamit kepada Pak RT dan tetangga terdekat. Sudah puluhan tahun SOP-nya seperti itu dan aman-aman saja.

***

Siang yang terik membuat orang-orang malas keluar rumah. Situasi yang sepi semacam itu dimanfaatkan oleh Paijo untuk melakukan pengintaian terhadap rumah yang ditinggalkan penghuninya. Ia cukup yakin, kalau rumah Lik Sukar suwung. Setidaknya, sudah tiga hari ia mengintainya.

Maka, pada malam keempat ia akan mengeksekusi rencana menyatroni rumah Lik Sukar. Plan A dan Plan B sudah ia hapalkan di benak, termasuk jalur pelarian jika kepergok warga. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sarung untuk Ojo

“Pak Suryat, kula sakniki sampun saged shalat. Menawi wonten sarung nganggur mbok kagem kula setunggal!”

Mas Suryat tertegun sejenak, begitu mendengar permintaan Ojo yang dirasa ganjil di telinganya. Sekarang Ojo sudah bisa shalat! Mas Suryat menyebut kebesaran Gusti Allah yang punya kuasa membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Sudah sejak lama Mas Suryat mengajak Ojo shalat. Ojo yang bertugas di bagian front office itu suka menggelengkan kepala jika diajak shalat. Bahkan ketika Ojo ikut Mas Suryat mudik lebaran, ia memilih menunggu di mobil daripada masuk masjid untuk menunaikan shalat. Lanjut baca…

Share on Facebook

Abel adik tersayang

Sudah sebulanan ini ia tinggal bersama kami. Tidak seperti para kakaknya yang kami adopsi, ia merupakan anak yang kehilangan ibunya lalu berkelana di jalanan. Daripada kehujanan dan kepanasan, ia kami pungut ketika sedang menangis di depan sebuah toko beras.

Meskipun ia kucing kampung – belakangan setelah kami bawa ke veterinarian dan diidentifikasi ternyata ia hasil kawin silang kucing kampung dan ras – mudah diterima oleh Gre, Titi dan Mike, tanpa ‘pertarungan’ terlebih dahulu.

Seperti para kakaknya, ia juga punya nama. Abel, nama panggilannya. Nama panjang belum ada kesepakatan, apakah Marble Musafir (ia dalam keadaan bepergian, entah dari/menuju ibunya) atau Marble Safarudin (berdasarkan waktu ditemukan, yakni di bulan Safar). Lanjut baca…

Share on Facebook