Sambel bakso

Malam menjelang larut. Sambil pulang ke rumah, Paiman mendorong gerobak bakso miliknya belok ke Sekar Kinanti Residence (SKR), sebuah kompleks perumahan baru. Siapa tahu, baksonya habis di sana sehingga pulang ke rumah dengan hati berbunga.

Ia menyapa petugas Satpam kompleks agar diizinkan masuk ke dalamnya. Untuk menarik perhatian penghuni kompleks ia bunyikan mangkuk dengan memukulnya dengan sendok.

Ting… ting… ting…

Dan benar saja. Ia dipanggil penghuni Blok G1 dan memesan 6 mangkok bakso.

“Sambelnya mana, mas?” Lanjut baca…

Share on Facebook

Pungli sehidup-semati

(1)

Pakde No sedang mengantri di KUA. Ia ingin mengurus pernikahan anak perempuannya bulan depan. Berkas yang ia bawa rasanya sudah lengkap, termasuk berkas data calon menantunya.

(2)

O, iya. Sebelum ke KUA, Pakde No mesti urus surat pengantar/keterangan dari RT/RW sampai ke Kantor Desa dan Kecamatan. Semua itu untuk melegalisasi bahwa anak perempuannya benar penduduk di sana.

(3)

Untuk tempat hajat pernikahan anaknya, Pakde No tak mampu menyewa gedung pertemuan. Maka, ia memilih buka hajat di rumah saja, dengan menutup jalan di depan rumahnya. Namun, untuk menutup jalan ia perlu izin kepada instansi yang berwenang. Lanjut baca…

Share on Facebook

Haji tower

Lik Sar, demikian ia biasa dipanggil namanya, tetangga kami yang minggu lalu pulang dari ibadah haji. Sebagai tetangga yang baik, kami menyambut kedatangan Lik Sar dan istrinya. Semoga mereka berdua mendapatkan predikat sebagai haji yang mabrur.

Kami mengenal Lik Sar sebagai lelaki yang sederhana. Seperti halnya kami, profesi Lik Sar juga sebagai buruh tani. Jika dinalar memang mustahil bagi Lik Sar bisa berangkat naik haji. Tapi kalau Gusti Allah sudah punya kehendak tak ada makhluk yang kuasa menolaknya.

“Di depan Kabah saya tidak lupa mendoakan kalian semua supaya bisa naik haji seperti saya dan istri,” ujar Lik Sar dengan wajah berbinar.

Semua yang hadir mengaminkan doa Lik Sar. Lanjut baca…

Share on Facebook