Ngrasani Juragan Besar

“little little to me, little little to me, salary no up up!” demikian seloroh seorang teman pada suatu sore. Kalau kalimat bahasa inggris tersebut diterjemahkan kira-kira begini : dikit-dikit aku, dikit-dikit aku, gaji nggak naik-naik. Siapapun tidak bisa menyangkal kalau teman yang satu ini sangat loyal kepada perusahaan dan bosnya. Tapi karena perusahaan tidak mempunyai standar baku dalam menentukan job desc karyawannya, maka si bos bebas menyuruh siapapun untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Nah, karyawan yang rajin dan cepat dalam membereskan suatu masalah, biasanya akan selalu mendapatkan pekerjaan tambahan lain dari si bos. Bahkan untuk urusan rumah tangga si bos, harus teman ini pula yang mengerjakannya. Sialnya, penambahan volume pekerjaan tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan gaji. Lanjut baca…

Share on Facebook

Senyum Membawa Luka

Tidak semua orang bisa tersenyum dengan tulus. Gerakan harus tersenyum akhir-akhir ini makin digalakkan pada sektor jasa/service. Sebut saja di SPBU. Betapa ramahnya para pelayanannya: membukakan tutup tangki BBM, berkata “dimulai dari nol ya pak”, dan bla..bla..bla…

Lain lagi di dept. store. Dari pintu masuk, senyuman selamat datang sudah menyambut pelanggan. Keluar dari dept. store – meskipun tidak bawa barang belanjaan, tetap disapa dengan ucapan terima kasih dan senyuman. Di rumah makan, di hotel, di toko buku, di mini market, semua memberikan senyuman kepada para pelanggannya.

Coba Anda amati, apakah senyuman mereka tulus? Atau para pemberi senyum itu sekedar menjalankan tugasnya saja, karena mereka dibayar untuk tersenyum? Meskipun demikian, saya sarankan balaslah senyuman mereka dengan senyuman Anda yang paling tulus.

Saya punya teman yang susah untuk bisa tersenyum. Sudah penampilannya acak-acakan, kalau berjalan tidak lihat kiri kanan, pokoknya tidak ada yang menarik dari penampilan dan gayanya. Suatu ketika, dia tertarik pada seorang wanita. Untuk merebut hati wanita itu, dia mencoba merombak total penampilannya. Rambutnya jadi klimis diolesi gel yang “hard“, baju dimasukkan ke celana, dari segi penampilan bisa dikatakan OK (tentu dibandingkan dengan penampilan dia sebelumnya). Tapi ada yang kurang, dia belum bisa tersenyum. Bisa jadi karena dia ini orang yang sangat serius, sampai lupa bagaimana cara tertawa, apalagi tersenyum. Banyak teman kantor yang menyangsikan kelanjutan asmaranya dengan wanita yang ditaksirnya itu.

Saya, yang belasan tahun bekerja di bidang pelayanan kepada pelanggan, ingin membantunya dengan menularkan ilmu senyum kepada teman saya yang satu ini. Pertama, dia saya minta untuk belajar tersenyum dengan metode 2-7-2 : bibir kanan-kiri ditarik 2 cm, bertahan selama 7 detik. Saya minta dilakukan dalam tiga hari, kalau bisa di depan cermin. Dia datang ke ruangan saya memamerkan senyumannya. Ah, saya lihat kok masih wagu (istilah yang pas dalam bahasa jawa artinya canggung, kikuk, tidak pas). Maklum baru tahap belajar. Selanjutnya, dia saya suruh mengucapkan selamat pagi kepada setiap orang yang ditemuinya, ketika baru masuk kantor, tentunya dengan disertai seulas senyum.

Hasilnya? Banyak kemajuan. Di satu sisi banyak teman yang merasa risih, setiap kali ketemu diberikan ucapan selamat pagi. Suatu ketika, saya ingin memberikan tambahan ilmu bagimana tersenyum yang tulus kepadanya. Saya titip pesan ke teman lain, supaya dia datang ke ruangan saya. Habis makan siang, saya berpapasan dengannya di depan toilet. Lho, wajahnya kok ruwet begitu dan berlalu tanpa bertegur sapa dengan saya.

“Hay mas… ada apa, kok kayaknya ruwet gitu,” saya mencoba ramah kepadanya.

“Wis, mulai sekarang nggak usah pake teori senyum-senyum lagi!” katanya dengan nada membentak.

Saya penasaran, cari informasi ke teman lain. Saya tersenyum mendengar penjelasan mereka. Ternyata, semalam dia ditolak cintanya oleh wanita yang ditaksirnya. Apa dia salah dalam tersenyum ya? Senyuman tulus belum diajarkan, jangan-jangan yang keluar malah senyuman mesum.

Dan sampai sekarang,  penampilannya kembali kepada keadaan semula.

Share on Facebook

Divide et Impera

Penjajahan kolonial Belanda selama 350 tahun bercokol di Nusantara meninggalkan banyak warisan buruk kepada pemilik negeri yang indah ini salah satunya berupa politik adu domba dan divide et impera. Sejarah mencatat, kerajaan Mataram Islam tercerai berai akibat peran Kompeni dalam mempengaruhi tata pemerintahan Mataram saat itu dengan politik adu domba dan divide et impera-nya. Dan peristiwa sejarah di masa lalu itu bergulir kembali di depan mata kita sekarang ini. Aktor intelektual yang bermain di zaman ini adalah kesamaan kepentingan.

Siapa yang sangka, sehari sebelumnya Partai 23 dan Partai 31 menyatakan kalau mereka solid paling tidak sampai Oktober 2009 nanti. Tetapi, esok harinya ternyata mereka pecah kongsi. Di televisi rakyat bisa menyaksikan dagelan gaya mataraman yang tidak lucu, mereka saling klaim memajukan negeri ini.

Tidak jauh beda dengan caleg yang akan bertanding memperebutkan kursi di Pemilu bulan depan. Saksikan ulah mereka, baru dalam tahap memasang atribut partai/caleg sesama teman saja sudah berantem dan saling merusak atribut pihak lawan. Sungguh luar biasa banyak jumlah partai di negeri ini : 38 partai! Ah, seperti merk Puyer 38 saja. Semua itu karena politik warisan kompeni. Hebat benar politik adu domba dan devide et impera itu, Partai 2 yang di zaman orba sangat perkasa saja bisa berantakan menjadi puluhan partai. Semua ingin menikmati kue kekuasaan. Kalau semua ingin duduk di kursi empuk, terus rakyat dapat apa?

Pasca pemilu nanti perlu lebih diwaspadai, caleg picik yang tidak mendapatkan kursi akan mengamuk mengobrak-abrik tatanan, tidak mau menerima kekalahannya.

Share on Facebook