Berhaji, menambah kemesraan

Ketika menghadiri acara pamitan haji seorang kawan, saya mendengar uraian Pak Ustadz yang berceramah, intinya pergi haji itu dapat menumbuhkan dan mempererat kekerabatan antar jamaah, baik itu statusnya orang lain atawa keluarga sendiri. Bahkan dalam hubungan keluarga akan menambah kemesraan.

Ya, saya sepakat dengan pendapat Pak Ustadz tersebut. Betapa tidak, hidup bersama selama 24 jam X 40 hari di Tanah Haram kita dituntut untuk memahami perbedaan sikap, sifat dan perilaku orang lain di negeri orang. Ternyata, perbedaan itu sangat indah. Di sana harus membuang jauh-jauh sifat egois, karena sikap yang sangat dibutuhkan adalah saling membantu dan menolong. Tak heran, sepulang berhaji nanti hubungan silaturahim antar jamaah masih terjalin baik di Tanah Air.

~oOo~ Lanjut baca…

Share on Facebook

Berhaji, sangu kesabaran sebanyak-banyaknya

Berdasarkan pengalaman pribadi, rangkaian ibadah haji semuanya membutuhkan kesabaran, baik lahir maupun batin, apalagi menggunakan ONH biasa, bukan plus atawa yang plus-plus. Betapa tidak, di tengah 3 jutaan umat sedunia yang sedang melaksanakan ibadah haji jika terjadi konflik atawa gesekan sedikit saja bisa merusak nilai ibadah. Untuk itulah betapa pentingnya sabar. Saya memberikan gambaran untuk ujian kesabaran yang bersifat fisik (karena menjaga sabar batin jauh lebih berat), stok kesabaran akan digunakan pada saat-saat sebagai berikut:

  1. Antri di kamar mandi/toilet/tempat wudlu, baik di maktab maupun di masjid-masjid. Kesabaran akan semakin ditingkatkan jika antrinya di Arafah, Muzdalifah (menurut pengalaman saya, di sini paling berat) dan Mina. Jumlah toilet yang terbatas tetapi penggunanya banyak sekali. Lokasi yang saya sebutkan di atas masih mendingan, karena hanya antri sesama jamaah Indonesia. Tetapi jika antri toiletnya di Masjidil Haram atawa Masjid Nabawi, bercampur dengan jamaah dari negara lain.
  2. Antri ketika makan. Di Arafah dan Mina untuk mengantri sebungkus nasi panjang antriannya bisa mengular puluhan meter. Bahkan satu orang bisa saja dititipi oleh temannya. Lagi-lagi harus sabar. Pulang dari masjid, jika ingin beli secangkir teh susu atawa kopi juga harus antri. Nah, di sini antri bareng dengan jamaah dari negara lain.
  3. Antri naik kendaraan umum atawa bus jemputan yang disediakan oleh pemerintah dari/ke Maktab – Masjidil Haram. Untuk masuk ke dalam kendaraan terutama bus jemputan memerlukan kesabaran yang ekstra. Beberapa pemerintah propinsi – seperti DKI Jakarta, menyediakan bus khusus bagi jamaah dari propinsi yang bersangkutan. Beruntunglah bagi jamaah yang mendapatkan bus jemputan macam begini.
  4. Berdesak-desakan saat tawaf, shalat di Raudhah, di sekitar makam Rasulullah, keluar Masjidil Haram atawa Masjid Nabawi (biasanya di waktu setelah shalat isya dan subuh), minum air zam-zam selesai tawaf, atawa kegiatan lain di dalam masjid harus sabar, sabar dan sabar (tiba-tiba ada jamaah negara lain menyelip duduk di barisan kita atawa pegang-pegang kepala kita saat melewati bahu-bahu kita ketika ia mencari shaf yang kosong).
  5. Aktifitas lain juga memerlukan kesabaran seperti masuk asrama haji, cek kesehatan, menunggu pesawat, pengurusan dokumen (saat pemeriksaan imigrasi di Bandara Saudi), mencari/menemukan koper, naik/turun lift, dan sebagainya.

Sedangkan ujian kesabaran yang bersifat batin akan banyak digunakan saat bergaul dengan orang lain, baik terhadap keluarga sendiri maupun teman sesama jamaah. Contoh sederhana, ketika kita kedinginan teman sekamar malah menyalakan AC atawa terganggu oleh dengkuran teman sehingga menyebabkan susah tidur.

Belum lagi di saat mendapat ujian dari Gusti Allah, pasti kita harus jauh lebih sabar.

Bagi yang berangkat haji tahun ini, bawalah kesabaran yang sebanyak-banyaknya.

Share on Facebook

Menyentuh Ka’bah

Mereka berjalan beriringan ketika memasuki Masjidil Haram. Sesekali sang ayah membetulkan posisi kain ihram ke pundaknya karena tangannya menggandeng kedua anaknya, perempuan dan laki-laki. Mereka berjalan bergegas agar cepat sampai di tempat tawaf.

“Itulah Ka’bah yang agung itu, nak! Mari kita tengadahkan tangan untuk berdoa ketika melihat Ka’bah.” ujar sang ayah terdengar gemetar. Rasa haru menyelimuti hatinya. “Kita duduk bersimpuh sejenak,” lanjutnya.

Rombongan kecil jamaah umrah itu duduk bersimpuh di hadapan Ka’bah, mata mereka tak lepas dari pandangan bangunan kubus yang terselimuti kain hitam yang berdiri kokoh di depan mereka yang tak pernah berhenti dikelilingi ribuan orang yang melakukan tawaf. Lanjut baca…

Share on Facebook