Menjadi ibu

Sarmintara tak sabar menunggu bulan Desember. Kemarin dulu ia mendatangi biro perjalanan umroh, mendaftarkan atas nama dirinya dan ibunya. Tabungan yang ia mulai sejak lima tahun lalu, telah cukup untuk pergi umroh berdua.

“Memang sudah menjadi keinginan saya mengajak ibu ke Tanah Suci, pak haji,” ujar Samintara kepada Mas Suryat, di serambi masjid sambil menunggu dimulainya ibadah shalat Jumat.

“Alhamdulillah, mas. Insya Allah semua urusan lancar ya. Jadi mau berangkat dari mana, Jakarta atau Surabaya?” tanya Mas Suryat.

“Ambil Surabaya saja, pak haji. Lagian saya bisa mendampingi ibu mulai dari keberangkatan dari Jember,” jawab Sarmintara.

Mas Suryat menyarankan kepada Sarmintara untuk segera membikin paspor, agar jauh-jauh hari sudah memegang dokumen imigrasi. Selebihnya, biar Gusti Allah yang mengatur semuanya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Gino gelisah

Buku tabungan berwarna biru tua itu tergenggam erat di tangan Gino. Office boy kesayangan Mas Suryat itu matanya menerawang ke arah plafon, entah apa yang menjadi fokusnya. Adakah sarang laba-laba atau sepasang cicak yang sedang kasmaran, hingga mata Gino tak berkedip cukup lama.

“No, berita di koran kemarin ada orang mati mendadak gara-gara melamun akut seperti kamu ini.”

“Eh, pak Suryat. Bikin kopinya sekarang?”

Awakmu nglamunke apa?”

Ditanya seperti itu, Gino malah membik-membik bibirnya. Berasa mau mewek. Mas Suryat bingung. Ia pun segera menggeser kursi dan duduk di dekat Gino. Lanjut baca…

Share on Facebook

Tentang tarawih

Target ramadhan tahun ini saya ingin memperbaiki shalat tarawih saya. Jika tahun-tahun sebelumnya, saya akan keluar dari shaf shalat ketika delapan rakaat pertama diselesaikan, kemudian saya sambung dengan shalat witir di rumah. Sementara itu, imam di masjid melanjutkan shalat hingga rakaat kedua puluh tiga.

Rumah saya yang sekarang jarak dari masjid hanya sepelemparan sendal saja. Masjidnya cukup megah, jamaahnya selalu banyak pada shalat-shalat wajib lima waktu. Maklum, letaknya sangat strategis di pintu masuk utama perumahan sehingga banyak musafir yang mampir shalat di sana.

Pada saat shalat maghrib, isya dan subuh berasa shalat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Surat yang dibaca oleh imam panjang nian. Memang, para imam masjid ini pada hafidz Quran. Ruangan masjid yang ber-AC memberikan efek nyaman, meskipun berlama-lama shalat. Lanjut baca…

Share on Facebook