Gino gelisah

Buku tabungan berwarna biru tua itu tergenggam erat di tangan Gino. Office boy kesayangan Mas Suryat itu matanya menerawang ke arah plafon, entah apa yang menjadi fokusnya. Adakah sarang laba-laba atau sepasang cicak yang sedang kasmaran, hingga mata Gino tak berkedip cukup lama.

“No, berita di koran kemarin ada orang mati mendadak gara-gara melamun akut seperti kamu ini.”

“Eh, pak Suryat. Bikin kopinya sekarang?”

Awakmu nglamunke apa?”

Ditanya seperti itu, Gino malah membik-membik bibirnya. Berasa mau mewek. Mas Suryat bingung. Ia pun segera menggeser kursi dan duduk di dekat Gino. Lanjut baca…

Share on Facebook

Tentang tarawih

Target ramadhan tahun ini saya ingin memperbaiki shalat tarawih saya. Jika tahun-tahun sebelumnya, saya akan keluar dari shaf shalat ketika delapan rakaat pertama diselesaikan, kemudian saya sambung dengan shalat witir di rumah. Sementara itu, imam di masjid melanjutkan shalat hingga rakaat kedua puluh tiga.

Rumah saya yang sekarang jarak dari masjid hanya sepelemparan sendal saja. Masjidnya cukup megah, jamaahnya selalu banyak pada shalat-shalat wajib lima waktu. Maklum, letaknya sangat strategis di pintu masuk utama perumahan sehingga banyak musafir yang mampir shalat di sana.

Pada saat shalat maghrib, isya dan subuh berasa shalat di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Surat yang dibaca oleh imam panjang nian. Memang, para imam masjid ini pada hafidz Quran. Ruangan masjid yang ber-AC memberikan efek nyaman, meskipun berlama-lama shalat. Lanjut baca…

Share on Facebook

Doa yang terkabul sepulang umroh

Saya sangat meyakini jika kita bersungguh-sungguh berdoa di depan Ka’bah, Tuhan akan segera merealisasikan doa tersebut. Beberapa kali saya mendengar petuah pembimbing ibadah haji/umroh, saat¬†kita berada di depan Ka’bah jangan memohon kepada Tuhan permintaan yang biasa-biasa saja atau yang tanggung-tanggung, secara jujur dan terbuka curhatlah kepada-Nya. Seringnya, Ia akan mengabulkan doa secara kontan.

(1)

Bulan lalu, teman saya yang satu ini datang menemui saya sembari membawa oleh-oleh khas Tanah Haram, sekaligus berpamitan karena minggu depannya ia dimutasi ke posisi yang baru pada sebuah perusahaan yang masih bernaung dalam satu group.

Surat Keputusan yang ia terima serasa mendadak, sebab hanya jeda seminggu ia mesti pindah ke pekerjaan barunya. Kepada saya ia setengah curhat, kalau lokasi kantor barunya sangat jauh dari tempat tinggalnya.

“Kamu ingat nggak, kemarin memohon doa apa di depan Ka’bah?” pancing saya.¬† Lanjut baca…

Share on Facebook