Konsep mereka tentang rejeki

Pada suatu diskusi terbatas, saya minta 3 orang teman untuk menuliskan pendapat mereka tentang konsep rejeki yang telah diatur oleh Tuhan. O iya, namanya juga pendapat bebas, jadi jangan dinilai salah atau benar.

Orang kesatu:

Pembagian rejeki itu mirip berlangganan air pam, aliran rejeki diatur dengan jaringan pipa dan kran-kran. Hanya saja, Tuhan sudah mengatur kapasitas/volume rejeki masing-masing orang yang akan disalurkan melalui pipa-pipa tersebut. Manusia bebas membuka kran rejekinya itu, mau dibuka terus-terusan atau dibuka setiap kali sedang membutuhkan. Masing-masing mempunyai konsekuensi, misal kalau kran dibuka terus maka rejeki akan ngocor deras tetapi cepat habisnya. Berbeda jika ia membuka kran hanya pada saat membutuhkan rejeki. Dua pilihan cara membuka kran rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan, silakan mana yang akan digunakan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Paijo terlilit utang

Saya masih terpana ketika dua hari ini Paijo curhat tentang utang-utangnya, tak mengira ia punya utang sedemikian banyaknya. Ia bercurhat kepada saya dengan harapan saya dapat memberikan solusi, meskipun belum terlontar dari mulutnya kalau ia ingin pinjam uang kepada saya.

Menurut saya, urusan utang-piutangnya menjadi rumit karena kesalahannya. Ia punya utang di sebuah bank dengan jangka waktu 5 tahun, di mana cara bayarnya dengan potong gaji. Ia juga punya tanggungan bayar cicilan mobil selama 3 tahun. Tanggungan utang yang paling parah ada 2 kartu kreditnya sedang bunga-berbunga, jumlahnya sangat besar menurut saya.

Skenario yang diusulkan pada pertemuan pertama dengan saya: ia ingin berutang lagi (dengan jumlah yang cukup besar) untuk melunasi kredit mobilnya (dan juga kartu kreditnya), lalu BPKB-nya diserahkan kepada orang yang mengutanginya sebagai jaminan.

Pada pertemuan kedua dengan saya: jumlah utang yang akan diajukan setengah dari skenario pertama.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Sebelum ke Balikpapan, Kediri dulu

Sebelum libur tahun baru kemarin saya makan siang dengan Mas Purwo di restoran sebuah hotel bintang 3+ di bilangan tak jauh dari kantor saya. Kami lama tak berjumpa, pertemuan kemarin sebagai ajang silaturahim biar ndak putus di tengah jalan.

Sekedar mengingatkan, tulisan tentang Mas Purwo pernah saya bikin di antaranya: KosongKebiasaan makan yang baik atau Sedikit di bawah standar cara jitu menikmati hidup.

Penampilannya masih sama ketika terakhir saya bertemu dengannya, hanya kini ia mengenakan cincin batu akik berwarna hijau.

“Waduh, ikutan sindrom pakai akik mas? Jenis mata kucing, nih?” tanya saya. Lanjut baca…

Share on Facebook