Doa yang terkabul sepulang umroh

Saya sangat meyakini jika kita bersungguh-sungguh berdoa di depan Ka’bah, Tuhan akan segera merealisasikan doa tersebut. Beberapa kali saya mendengar petuah pembimbing ibadah haji/umroh, saat kita berada di depan Ka’bah jangan memohon kepada Tuhan permintaan yang biasa-biasa saja atau yang tanggung-tanggung, secara jujur dan terbuka curhatlah kepada-Nya. Seringnya, Ia akan mengabulkan doa secara kontan.

(1)

Bulan lalu, teman saya yang satu ini datang menemui saya sembari membawa oleh-oleh khas Tanah Haram, sekaligus berpamitan karena minggu depannya ia dimutasi ke posisi yang baru pada sebuah perusahaan yang masih bernaung dalam satu group.

Surat Keputusan yang ia terima serasa mendadak, sebab hanya jeda seminggu ia mesti pindah ke pekerjaan barunya. Kepada saya ia setengah curhat, kalau lokasi kantor barunya sangat jauh dari tempat tinggalnya.

“Kamu ingat nggak, kemarin memohon doa apa di depan Ka’bah?” pancing saya.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Konsep mereka tentang rejeki

Pada suatu diskusi terbatas, saya minta 3 orang teman untuk menuliskan pendapat mereka tentang konsep rejeki yang telah diatur oleh Tuhan. O iya, namanya juga pendapat bebas, jadi jangan dinilai salah atau benar.

Orang kesatu:

Pembagian rejeki itu mirip berlangganan air pam, aliran rejeki diatur dengan jaringan pipa dan kran-kran. Hanya saja, Tuhan sudah mengatur kapasitas/volume rejeki masing-masing orang yang akan disalurkan melalui pipa-pipa tersebut. Manusia bebas membuka kran rejekinya itu, mau dibuka terus-terusan atau dibuka setiap kali sedang membutuhkan. Masing-masing mempunyai konsekuensi, misal kalau kran dibuka terus maka rejeki akan ngocor deras tetapi cepat habisnya. Berbeda jika ia membuka kran hanya pada saat membutuhkan rejeki. Dua pilihan cara membuka kran rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan, silakan mana yang akan digunakan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Paijo terlilit utang

Saya masih terpana ketika dua hari ini Paijo curhat tentang utang-utangnya, tak mengira ia punya utang sedemikian banyaknya. Ia bercurhat kepada saya dengan harapan saya dapat memberikan solusi, meskipun belum terlontar dari mulutnya kalau ia ingin pinjam uang kepada saya.

Menurut saya, urusan utang-piutangnya menjadi rumit karena kesalahannya. Ia punya utang di sebuah bank dengan jangka waktu 5 tahun, di mana cara bayarnya dengan potong gaji. Ia juga punya tanggungan bayar cicilan mobil selama 3 tahun. Tanggungan utang yang paling parah ada 2 kartu kreditnya sedang bunga-berbunga, jumlahnya sangat besar menurut saya.

Skenario yang diusulkan pada pertemuan pertama dengan saya: ia ingin berutang lagi (dengan jumlah yang cukup besar) untuk melunasi kredit mobilnya (dan juga kartu kreditnya), lalu BPKB-nya diserahkan kepada orang yang mengutanginya sebagai jaminan.

Pada pertemuan kedua dengan saya: jumlah utang yang akan diajukan setengah dari skenario pertama.  Lanjut baca…

Share on Facebook