Bagasi yang hilang itu telah kembali

Kabar dari Mas Wahyu dari Jogja disampaikan melalui WA: Alhamdulillah, tasnya sudah ketemu. Dilampirkan juga foto tas coklat yang kemarin sempat hilang. Mas Suryat setengah tidak percaya, tetapi memang demikian kenyataannya, kalau tas tersebut ketemu dan akan dikirim ke Karawang.

Jika dihitung dari laporan kehilangan sampai diketemukannya kembali bagasi yang hilang tersebut sekitar dua puluh hari.

Sesungguhnya hilangnya satu bagasi telah membuat Mas Suryat berkontemplasi: adakah yang kesalahan yang telah ia perbuat. Berdasarkan ilmu titen yang ia miliki, kehilangan berarti pernah tidak atau kurang sedekah.

Ia pun membuka catatan transaksi keluar dari tabungannya. Benar saja, ia tidak menemukan item pengeluaran untuk zakat penghasilan bulan Desember 2015. Tepatnya ia lupa, sebab ia konsentrasi melunasi utang-utang dan tanggungan sebelum jadwal keberangkatan umrahnya di akhir tahun itu.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Menjadi orang saleh

Ketika saya berkunjung ke rumah Ustadz Asnoor, ia sedang berada di teras rumahnya bersama dua orang tamu yang saya juga mengenalnya. Dari ruang dalam sayup-sayup terdengar lagu Tombo Ati yang dilantunkan Opick.

Pas dengan misi saya berkunjung ke sana, yakni tombo ati yang ketiga: wong kang saleh kumpulana, berkumpulah dengan orang saleh.

Hmm, rupanya mereka bertiga sedang membicarakan mengenai orang saleh. Saya menyimak apa yang disampaikan Ustadz Asnoor tersebut.

“Orang saleh adalah standar dalam ajaran Islam, artinya default-nya seorang muslim itu ya sebagai orang saleh. Dan kesalehannya itu meliputi kesalehan individual maupun sosial. Jika seseorang itu beramal saleh artinya ia mengerjakan hal-hal yang baik yang secara kasatmata bisa dilihat, nyata dan bermanfaat bagi orang lain. Semua perbuatan atau tindakan yang sesuai dengan hukum baik alam maupun sosial, memelihara semua hal yang sudah baik, melakukan hal-hal yang membuat suasana menjadi damai dan menyenangkan, semua itu dikategorikan sebagai amal saleh.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Jangan menerima jika tak bisa memberi

Jangan mudah menerima kebaikan orang lain, karena siapa tahu kita tidak bisa membalas kebaikan itu. Bisa jadi orang yang memberikan kebaikan tadi menganggap diri kita tak tahu diri, apalagi jika orang tersebut ada pamrih di balik pemberian kebaikan tadi. Ujung-ujungnya tidak mengenakkan hati dan lama-lama tumbuh suatu kebencian.

Siapa sih yang tak senang dibantu orang lain ketika kita sedang mengalami suatu kesulitan?

***

Zaman berubah dengan sangat cepat, namun perubahan itu tak secepat dengan bertambahnya penghasilan kita setiap bulannya. Sekarang sudah masuk tahun baru, di mana menurut kebiasaan di bulan Januari kita mulai berhitung berapa persen kenaikan gaji kita, apakah lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai inflasi? Apakah gaji tersebut akan dapat menutupi kebutuhan hidup yang makin banyak? Apakah gaji tersebut akan bersaldo cukup untuk sedikit nambah tabungan? Ah, ngomongin gaji sih nggak ada habis-habisnya. Lanjut baca…

Share on Facebook