Menjadi orang saleh

Ketika saya berkunjung ke rumah Ustadz Asnoor, ia sedang berada di teras rumahnya bersama dua orang tamu yang saya juga mengenalnya. Dari ruang dalam sayup-sayup terdengar lagu Tombo Ati yang dilantunkan Opick.

Pas dengan misi saya berkunjung ke sana, yakni tombo ati yang ketiga: wong kang saleh kumpulana, berkumpulah dengan orang saleh.

Hmm, rupanya mereka bertiga sedang membicarakan mengenai orang saleh. Saya menyimak apa yang disampaikan Ustadz Asnoor tersebut.

“Orang saleh adalah standar dalam ajaran Islam, artinya default-nya seorang muslim itu ya sebagai orang saleh. Dan kesalehannya itu meliputi kesalehan individual maupun sosial. Jika seseorang itu beramal saleh artinya ia mengerjakan hal-hal yang baik yang secara kasatmata bisa dilihat, nyata dan bermanfaat bagi orang lain. Semua perbuatan atau tindakan yang sesuai dengan hukum baik alam maupun sosial, memelihara semua hal yang sudah baik, melakukan hal-hal yang membuat suasana menjadi damai dan menyenangkan, semua itu dikategorikan sebagai amal saleh.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Jangan menerima jika tak bisa memberi

Jangan mudah menerima kebaikan orang lain, karena siapa tahu kita tidak bisa membalas kebaikan itu. Bisa jadi orang yang memberikan kebaikan tadi menganggap diri kita tak tahu diri, apalagi jika orang tersebut ada pamrih di balik pemberian kebaikan tadi. Ujung-ujungnya tidak mengenakkan hati dan lama-lama tumbuh suatu kebencian.

Siapa sih yang tak senang dibantu orang lain ketika kita sedang mengalami suatu kesulitan?

***

Zaman berubah dengan sangat cepat, namun perubahan itu tak secepat dengan bertambahnya penghasilan kita setiap bulannya. Sekarang sudah masuk tahun baru, di mana menurut kebiasaan di bulan Januari kita mulai berhitung berapa persen kenaikan gaji kita, apakah lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai inflasi? Apakah gaji tersebut akan dapat menutupi kebutuhan hidup yang makin banyak? Apakah gaji tersebut akan bersaldo cukup untuk sedikit nambah tabungan? Ah,¬†ngomongin gaji sih nggak ada habis-habisnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pak Bejo rajin ke masjid

Semenjak pulang dari Tanah Suci, para tetangganya kini memanggilnya dengan sebutan Haji Bejo. Jika ada yang bertanya hendak ke mana, maka orang tersebut akan menjawab mau belanja ke toko Haji Bejo. Dulu, mereka menyebutnya toko Pak Bejo.

Peci putih juga tak lepas dari kepala Pak Bejo. Identitas haji dapat dikenali dari peci putih yang dikenakannya itu. Jika diamati, peci model seperti itu hanya dapat dibeli di sekitaran Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, seharga kisaran 3 riyal atau paling mahal 5 riyal. Jadi betul-betul peci asli Tanah Suci. Lanjut baca…

Share on Facebook