Menyaksikan matahari tenggelam di Jeddah dan terbit di Mekkah

Sesaat sebelum melewati wilayah miqat (batas untuk memulai berniat ihram), crew Saudi Arabian Airlines memberitahukan kepada para penumpang kalau pesawat sebentar lagi melewati wilayah miqat, saya yang sudah memakai kain ihram (kain yang berwarna putih, tidak berjahit, terdiri 1 helai sebagai sarung dan 1 helai sebagai selendang) mulai berniat ihram. Saat itu, larangan-larangan ketika ber-ihram mulai berlaku, seperti tidak boleh memotong rambut atau kuku, bertengkar dan sebagainya.

Kalimat talbiyah mulai menggema di dalam pesawat. Rongga dada saya semakin sesak saja, memaknai arti kalimat talbiyah yang saya ucapkan. “Labbaika Allahhumma Labbaika, Labbaika La Syarika Laka Labbaika, Innal Hamda wan Ni’mata Laka Wal Mulku, La Syarika Laka – Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan segala kenikmatan hanyalah milik-Mu dan segala kekuatan. Tiada sekutu bagi-Mu”. Lanjut baca…

Share on Facebook

Berhala Ponsel

Pengguna ponsel tidak mengenal lagi status sosial seseorang. Siapun sekarang ini menggunakan ponsel. Bayangkan, dengan harga 200 ribuan, orang bisa memiliki ponsel.

Ponsel memang barang ajaib. Selain untuk berkomunikasi secara telewicara bisa digunakan untuk mengirim data, berselancar di dunia maya atau untuk menyimpan lagu-lagu yang jumlahnya ratusan. Sepertinya, kita tidak dapat “hidup” tanpa ada ponsel di tangan kita. Benarkah?

Saya sedang belajar tidak tergantung kepada ponsel, karena benda ini telah menjadi “berhala” bagi kehidupan saya. Lanjut baca…

Share on Facebook