Ber-Islam secara kaffah

Bang Ali Nurdin ke mana-mana berpakaian jubah yang mirip gamis atawa gamis yang mirip jubah lengkap dengan kopiah hitam asli Indonesia. Kakinya dialasi terompah, sementara tangannya tidak lepas dari benda yang bernama siwak yang digosok-gosokkan di sela-sela gigi putihnya.

Setiap bertemu orang ia menebarkan salam, bahkan sebelum dan selepas ia memarahi seorang pemuda pemabuk di pos ronda ia juga mengucapkan salam meskipun dengan nada yang tidak terlalu ramah. Lanjut baca…

Share on Facebook

Shalat Rejeki

Pengajian malam Jumat Legi topiknya cukup menarik. Ustadz Asnoor menyampaikan materi seputar shalat Dhuha yang disebutnya sebagai shalat rejeki. 

“Sepertinya kita menjadi orang yang sombong dan sok sibuk, seperti tidak punya waktu luang, masa sih untuk shalat sunat dua rakaat saja nggak punya waktu? Masa sih nggak punya waktu barang sejenak untuk berkomunikasi dengan Gusti Allah?” kata Ustadz Asnoor ketika menjawab sebuah pertanyaan seorang santri berapa jumlah minimal rakaat dalam shalat Dhuha.

Lalu ia menambahkan, “Dengan shalat Dhuha kita akan mendapatkan bimbingan dan arahan dari Gusti Allah bagaimana seharusnya menjemput rejeki, karena rejeki hak diberikan oleh Gusti Allah kepada semua makhluk di muka bumi ini.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Umar bin Khattab dan anaknya

Khalifah Umar bin Khattab heran melihat sikap anaknya yang sedang bersedih di muka rumahnya.

“Apa yang membuat gundah hatimu?”

“Aku ingin menyembunyikan gundahku ini ayah.”

Umar bin Khatab tetap mendesak agar anaknya bicara.

“Baiklah, kalau ayah mendesak. Teman-temanku mengolok-olok karena aku mengenakan pakaian lusuh dan banyak tambalan seperti ini, sementara ayah seorang pemimpin negara.”

Khalifah Umar bin Khattab tertegun mendengar ucapan anaknya, dan ia pun segera menulis surat kepada bendahara negara untuk mengajukan kasbon dua bulan gajinya. Tak lama ia mendapatkan surat jawaban dari bendahara.

“Wahai amirul mukminin, mudah bagiku untuk mengeluarkan uang dua bulan gajimu, tetapi siapa yang berani menjamin kalau esok hari atau dua bulan ke depan engkau masih hidup? Tak seorang pun tahu kapan ajal kita dijemput.”

Khalifah Umar bin Khattab tersentak dan membenarkan kata sang bendahara.

~oOo~

Ini Umar yang lain.

Suatu malam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang berada di ruang kerjanya. Putrinya ingin bertemu, lalu diketuklah pintu ruang kerja ayahnya.

“Siapa di luar?”

“Aku, putrimu. Ingin bicara dengan ayah.”

“Masalah negara atau keluarga?”

“Keluarga, ayah.”

Putri Umar pun masuk ruang kerja dan didapatinya ruangan itu gelap gulita.

“Kenapa ayah mematikan lenteranya?”

“Tahukah kau anakku. Saat ini kita akan bicara masalah keluarga. Aku tidak mau menggunakan fasilitas negara.”

“Maksud ayah?”

“Lentera ini milik negara, anakku.”

Share on Facebook