Para Pewaris Surga

Matahari yang jaraknya cuma sejengkal di atas kepalaku sungguh membuatku semakin payah saja. Keringat seperti diperas dari tubuhku. Bahkan untuk membasahi kerongkongan dengan air ludah pun tiada bersisa. Orang menyemut, gelisah dengan perasaannya sendiri-sendiri.

Aneh, dari sekian banyak manusia tiada satu pun yang aku kenal. Semua orang asing. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sendiri berlari ke sana ke mari mencari tempat yang mungkin bisa untuk berteduh. Ah, tapi manalah mungkin. Terik matahari siap membakar apa saja.

Nun di sana, aku menyaksikan antrian manusia yang wajah-wajahnya tiada tergambar kegelisahan. Mereka seperti tidak terpengaruh oleh panasnya matahari kini berada di atas ubun-ubun. Semakin kupercepat langkahku untuk mendekati mereka. Wahai, aku ingin sekali berkumpul dengan mereka. Lanjut baca…

Share on Facebook

Surat Pendek

Shalat maghrib kemarin makmum saya Gino dan Meksa. Entah kenapa Meksa – si pakar autocad di Padeblogan, buru-buru keluar mushola, mungkin ia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Tinggal saya dan Gino, OB kesayangan banyak orang. Masing-masing sibuk dengan doanya sendiri. Setelah itu, kami bersalaman.

“Tumben Kyaine tadi membaca surat agak panjangan. Biasanya di rakaat pertama qulhu lalu an-nas.”

Weladalah, awakmu kok sampai ngapalin gitu No. Jadi malu aku.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Kelahiran Muhammad SAW

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS 21 : 107)

Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi wanita terhormat dari kalangan Quraisy : Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zahrah az-Zhuhriyah. Aminah lalu mengandung Muhammad SAW. Tak lama kemudian Abdullah wafat. Setelah melahirkan, Aminah mengirimkan berita kepada Abdul Muthalib bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki. Abdul Muthalib segera menemui dan melihat cucunya itu serta membawanya ke Ka’bah. Lalu dia berdoa dan memuji Allah SWT serta memberinya nama Muhammad. Nama tersebut cukup asing di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu. Abdul Muthalib lalu bersenandung : Lanjut baca…

Share on Facebook