Dering di Tengah Shalat

Dalam suatu forum pengajian, setelah menyampaikan materi tentang shalat Ustadz Asnoor ditanya oleh salah satu santrinya.

“Saya mau bertanya Ustadz. Sering kita alami kejadian saat shalat jumat terdengar bunyi HP dari salah seorang jamaah. Hal ini sangat mengganggu konsentrasi shalat jamaah lainnya. Padahal sebelum khutbah dimulai, sudah diumumkan agar mematikan HP. Yang saya tanyakan, apakah diperbolehkan mematikan HP saat kita shalat? Mohon penjelasan Ustadz.”

Hening sejenak. Ustadz pun menjawab pertanyaan itu.

“Bayangkan saat ini kamu sedang menghadap Presiden. Oh, terlalu tinggi, Bupati saja. Kamu diterima di ruang tamunya. Ketika kamu sedang menyampaikan maksud kehadiranmu di hadapan Bupati, tiba-tiba HP-mu berbunyi. Apa yang akan kamu lakukan? Membiarkan saja, mengangkat atau mematikan? Kamu pasti akan buru-buru mematikan HP itu dan meminta maaf kepada Bupati, karena gangguan dering HP.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Heaven-Train Tickets

Kereta Heaven-Express sebentar lagi berangkat. Tiket yang berlaku berwarna hijau daun, dengan tulisan sebagai berikut :

Banyak memberi sedekah

Tangan di atas jauh lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Banyaklah memberi sedekah kepada orang lain yang membutuhkan uluran tanganmu.

Selalu bersyukur

Kenapa Gusti Allah memberimu dua telinga, dua mata, dan cukup satu mulut saja? Kamu harus banyak mendengar nasihat orang lain, lebih sering melihat tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Gusti Allah agar selalu bersyukur kepada-Nya, sementara itu kamu harus pandai menahan mulutmu yang cuma satu-satunya itu untuk tidak mencaci atau menggunjing orang lain. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kelahiran Muhammad SAW

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS 21 : 107)

Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi wanita terhormat dari kalangan Quraisy : Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zahrah az-Zhuhriyah. Aminah lalu mengandung Muhammad SAW. Tak lama kemudian Abdullah wafat. Setelah melahirkan, Aminah mengirimkan berita kepada Abdul Muthalib bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki. Abdul Muthalib segera menemui dan melihat cucunya itu serta membawanya ke Ka’bah. Lalu dia berdoa dan memuji Allah SWT serta memberinya nama Muhammad. Nama tersebut cukup asing di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu. Abdul Muthalib lalu bersenandung :

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahiku anak yang baik ini, lagi menjadi idamanku. Dia akan berada dalam buaian dengan usia mudanya. Aku akan melindunginya di Baitullah dan tiang-tiangnya, hingga aku akan melihatnya tumbuh dewasa. Dan aku akan melindunginya dari kejahatan orang-orang yang benci, dan dari kendali orang yang dengki.

Muhammad SAW lahir di rumah Abu Thalib, di lingkungan bani Hasyim dekat Shafa di Mekkah al-Mukarramah. Muhammad SAW lahir pada Senin pagi, 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah, tahun di mana Abrahah al-Habsyi menginvasi Mekkah al-Mukarramah untuk menghancurkan Ka’bah dari arah Yaman.

Rasulullah SAW lahir di tengah-tengah kabilah paling terhormat di antara kabilah-kabilah Arab lainnya. Berkata Rasulullah SAW : “Allah telah memilih Kinanah sebagai keturunan Ismail, lalu Kinanah Dia memilih Quraisy, kemudian dari Quraisy, Dia memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim, Dia memilihku.” (HR Muslim).

Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Ma’d bin ‘Adnan. Nasabnya terus berlanjut sampai kepada Ismail bin Ibrahim.

Sementara itu, ibunda Muhammad SAW adalah Aminah binti Wahhab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab bin Murrah. Nasabnya bertemu ayahnya pada Kilab bin Murrah (kakek kelima dari ayahnya dan keempat dari ibunya).

Syifa’, ibunda Abdurrahman bin Auf adalah bidan yang membantu kelahiran Muhammad SAW. Ibu susuan Muhammad SAW pertama kali adalah Suwaibah, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Ummu Aiman merupakan orang yang mengasuhnya, budah perempuan ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib.

Sudah menjadi tradisi bangsawan Arab meminta tolong kepada ibu susuan untuk menyusui anak mereka di pedalaman. Hal tersebut dilakukan agar si anak berlaku mulia pada setiap keadaan. Halimatus Sa’diyah, istri Abu Kabsyah kemudian mengambil alih penyusuan Muhammad SAW di tengah-tengah bani Sa’d dari suku Hawazin. Keberkahan pun diperolehnya dan juga desa mereka. Saat usia Muhammad SAW 4 tahun, Halimah mengembalikannya ke pangkuan ibundanya. Ketika berusia 6 tahun, ibunya meninggal, Muhammad SAW kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Saat Muhammad SAW berusia 8 tahun, kakeknya itu wafat. Setelah itu pengasuhannya pun berpindah ke tangan Abu Thalib, pamannya. Demikianlah, sedari kecil Muhammad SAW dalam keadaan yatim piatu.

Sumber : Atlas Perjalanan Hidup Nabi Muhammad – Dr. Sami bin Abdullah al-Maghluts

Share on Facebook