Mandi kucing

Pada waktu SD dulu, saya jarang mandi pagi. Saya tak ingat alasan utama mengapa tidak mandi. Ritual pagi hanya raup Рcuci muka Рsaja, dan membahasi tangan dan kaki. Kemudian ganti baju dan berangkat ke sekolah.

Waktu itu saya dan teman-teman sekolah belum model bersepatu, masih dengan bertelanjang kaki. Menggunakan sandal (jepit) ke sekolah adalah pamali sehingga pilihan cuma dua saja: bersepatu atau nyeker.

Bisa dibayangkan betapa kusamnya kulit saya. Sudah berkulit hitam ditambah dilumuri daki. Kalau kulit saya terkena garuk, maka akan timbul bekas berwarna putih. Orang Jawa menyebut kulit mbekisak, bersisik. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mas Boi melepas lajang

Selamat kepada Mas Boi yang dalam hitungan hari akan melepas masa lajang dan jadilah suami Nomer Jitu.

Dari artikel Suami dan penghasilannya

Kepergian saya ke SOC kemarin untuk menghadiri pernikahan teman sekantor yang kami panggil dengan sebutan Mas Boi. Sungguh rejeki bagi saya, ternyata format kondangan menggunakan adat Solo dan sekitarnya yakni para tamu duduk manis di kursi yang telah disiapkan dengan satu meja per sepuluh kursi. Di atas meja sudah tersedia sepuluh gelas teh manis panas.

Tamu mulai mbanyu mili memasuki gedung, ketika pembawa acara angkat bicara (dengan bahasa Jawa paling halus) kalau acara segera dimulai. Untuk mendiskripsikan rangkaian acara saja memerlukan waktu hampir lima belas menit, sampai akhirnya muncul pengantin perempuan yang dibawa ke atas pelaminan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Es puter Pak Gombil

Setiap kali melihat orang jualan es puter keliling, saya selalu teringat Pak Gombil. Siapa itu Pak Gombil?

Ini kenangan waktu saya masih SD dulu. Saya bertetangga dengannya. Pak Gombil dan teman-temannya yang asli Wonogiri menyewa sebuah rumah, sebagai tempat memproduksi es puter. Saya dan teman sepermainan sering berkunjung ke rumah Pak Gombil untuk melihat bagaimana es puter tersebut dibuat.

Pagi-pagi sekali, ia dan teman-temannya sudah duduk manis di depan “mesin” es puter miliknya: sebuah tong yang terbuat dari kayu, di tengahnya dimasukkan sebuah tabung aluminium yang di dalamnya telah berisi adonan es puter yang masih cair. Kemudian pada ruang yang kosong (di dalam tong tersebut) diisi dengan bongkahan es batu kemudian ditaburi garam kasar. Dengan kesabaran ekstra-tinggi, tabung aluminium tersebut diputar pelan-pelan sampai adonan di dalamnya membeku dan siap disajikan/dinikmati. Lanjut baca…

Share on Facebook