Berjumpa Ibu Peri Kebun

Apakah Anda pernah mendengar peribahasa Jawa witing paseduluran amarga ngeblog? Arti harfiahnya kira-kira permulaan persaudaraan karena (kegiatan) ngeblog. Sudah banyak Narablog yang menuliskan pengalamannya bertemu (muka) dengan teman ngeblognya – yang sebelumnya hanya dikenalnya melalui dunia maya. Semua yang diceritakan oleh para Narablog tersebut masuk kategori seru!

Jangan dikira setelah saya mencanangkan program “No Komen No Krai” di The Padeblogan saya menghentikan kegiatan blog walking. Tidak. Bagi saya blog adalah bacaan terbaik, sehingga saya selalu membaca tulisan teman-teman Narablog meskipun saya tidak menorehkan komentar. Sok-sok malah saya klik di icon suka yang biasa dipasang di bawah kolom artikel. Lanjut baca…

Share on Facebook

Blog, bacaan terbaik saat ini

Sesungguhnya saya mulai bosan membaca majalah dan koran (saya belum mampu menghentikan langganan kepada Ucok yang saya mulai sejak 20 tahun lalu), sebab beritanya gitu-gitu melulu. Untungnya, majalah dan koran langganan saya ada rubrik yang menarik seperti ilmu pengetahuan populer, sastra, kesehatan dan psikologi. Berita utama yang disajikan seringnya malah saya lewati, karena sering disajikan dari sudut pandang redakturnya. Rasanya, mereka – media massa tersebut, sudah tidak netral lagi.

Ada yang lebih parah dari media massa konvensional, yakni media massa online. Telak-telak mereka menyajikan berita tidak seimbang dan bahkan sering menjadi provokator. Lihatlah para komentator yang meninggalkan jejak di bawah artikel yang disajikan: hampir semuanya bernada nyinyir, berpikiran negatif, menghujat, dan sebangsa dengan itu. Bangsa ini seolah-olah menjadi bangsa yang pesimis menatap masa depannya sendiri sebab tidak percaya dengan potensi diri sendiri. Payah. Lanjut baca…

Share on Facebook

Menziarahi Pekuburan Blog

Pintu gerbang pekuburan di atas bukit sudah terlihat. Di atasnya ada papan tertulis “The Sirnaraga Memorial Park”. Seorang bapak dan anak perempuannya turun dari motor yang dikendarainya, lalu pelan-pelan mereka melangkah memasuki area pekuburan yang sunyi itu.

“Lekum, ya blog-marhum dan marhumah. Semoga ketenangan dan kedamaian selalu menyertaimu,” kata si bapak, berhenti sejenak lalu menggandeng tangan putrinya menapaki jalan selebar satu meter yang di kanan-kirinya bermekaran bunga kamboja.

“Nak, kita awali ziarah kita di kluster paling depan ini. Lihatlah nisan-nisan ini. Apa pendapatmu putriku?” Lanjut baca…

Share on Facebook