Tak suka senantiasa

Dalam bertutur atawa menulis, saya menghindari pemakaian kata dan frasa yang tidak saya suka. Kalau ditanya kenapa saya tidak suka pada kata atawa frasa tersebut, jangankan memberikan alasannya saya akan mengatakan pokoknya nggak suka.

Memang kata atawa frasa apa saja yang tidak saya suka? Ada beberapa. Frasa pertama yang saya benci sampai di ubun-ubun adalah “seperti kita ketahui bersama” yang biasa digunakan di awal kalimat atawa membuka percakapan. Contoh dalam kalimat misalnya seperti di bawah ini:

Seperti kita ketahui bersama, pada hari Sabtu yang lalu saya kehilangan sebuah dompet yang di dalamnya berisi bermacam-macam dokumen. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pageblog!

Lintang Kemukus adalah pertanda buruk. Orang Jawa menyebut komet dengan Lintang Kemukus. Istilah ini sudah dikenal sejak zaman Prabu Jayabaya, ketika raja Kediri (memerintah sekitar tahun 1135 – 1157) itu mendiskripsikan ujud komet yakni Lintang Kemukus iku dawa ngalu-alu ana sisih wetan artinya kurang lebih Lintang Kemukus itu (bintang) yang sangat panjang ada di sisi Timur. Kenapa pertanda buruk?

Syahdan, zaman Raja Airlangga (nenek moyang Prabu Jayabaya) berkuasa di Kahuripan sekitar tahun 1009 – 1042, di wilayah kekuasaannya pernah didatangi Lintang Kemukus. Raja Airlangga gelisah dengan kehadirannya. Dan memang benar, tak lama kemudian datanglah pageblug atawa bencana yang tiada terduga yang menyebabkan ribuan orang meregang nyawa.  Pagebluk tersebut akibat ulah seorang janda dari Girah (ada yang menyebut Jirah) yang sakit hati karena Retno Manggali anak gadis semata wayangnya tak laku-laku untuk dipersunting oleh seorang lelaki. Ibu yang galau itu bernama Calon Arang. Ia menyebarkan teluh ke pelosok negeri untuk menuntaskan sakit hatinya. Orang yang disantetnya tak pandang bulu, siapa pun ia. Pagi sakit, tewas pada sore harinya atawa kebalikannya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mampet ide

Setiap Narablog pasti pernah merasakan mampet ide. Hal ini wajar saja dalam dunia tulis-menulis. Apakah ada obatnya? Menurut saya tak ada obat yang cespleng untuk melonggarkan kemampetan ide, karena menulis adalah masalah rasa. Kadang orang yang punya banyak ide pun jika perasaannya sedang nggak enak sebaris kalimat tak bakal tertulis lewat jemarinya.

Sudah banyak Narablog yang menulis bagaimana cara menjaring ide, bahkan ada yang menyarankan menuliskan ide-ide yang muncul pada sebuah buku kecil atawa kertas. Nanti pada suatu ketika, serpihan-serpihan ide tersebut dijahit menjadi rangkaian kalimat. Lanjut baca…

Share on Facebook