Proses penulisan sebuah artikel

Sejak mengelola The Padeblogan ini, saya berusaha dapat menyajikan satu tulisan per harinya. Namanya juga berusaha, kadang kala ada bilangan hari tanpa satu artikel pun yang tersaji di blog ini. Alasan paling utama adalah nggak sempat menulis, bukan melulu perkara macet ide. Soal bahan baku ide tulisan sih, ada bejibun di sekitar saya: hal yang sifatnya remeh-temeh pun bisa (sebenarnya) dikemas menjadi satu tulisan yang menarik (versi saya, tentu saja). Nggak sempat menulis berarti memang tak ada kesempatan membuka blog. Ada pekerjaan di dunia nyata yang lebih mendesak.

Tetapi, saban pagi sebelum beraktifitas saya menyempatkan menulis di dashboard seperti layaknya orang melakukan sarapan. Kadang baru mendapatkan tulisan satu alenia mesti jeda dulu. Sering artikel yang belum jadi itu kesusu saya klik publish, sehingga jika Anda sempat membaca artikel tersebut kok cuma sak-upil saja, maksudnya pripun?

~oOo~

Kalau dulu saya suka membuat draft tulisan di word lalu saya pindahkan ke dashboard. Bahkan saya punya stok tulisan agak banyak. Tak jarang, semua draft sudah saya masukkan ke dashboard tinggal di-publish secara terjadual.

Ada juga, tulisan yang sudah saya buat tersebut saya masukkan sebagai draft atawa private. Sewaktu-waktu saya buka kembali, sedikit edit dan publish. Tulisan yang saya simpan itu biasanya termasuk kategori Kawruh, di mana untuk menuliskannya saya mesti ada sedikit upaya riset kecil-kecilan atawa melibatkan referensi tertentu karena saya memprediksi artikel tersebut akan menjadi artikel “abadi” atawa artikel yang sering dibaca oleh pembaca The Padeblogan.

~oOo~

Beberapa kali saya menautkan artikel The Padeblogan dengan artikel di blog lain yang saya baca secara diam-diam.

Share on Facebook

No komen no krai

Galau seorang Narablog: berhenti menulis atawa bunuh diri. Sudah sesore ini tidak satu pun komentar yang singgah di artikel terbaru miliknya.

Note: sebuah fiksi mini berjudul Galau Hati Seorang Narablog yang dibuat 18 Mei 2010, waktu itu artikel ini mendapatkan 54 komentar

~oOo~

Secara tak sengaja saya memergoki sebuah artikel yang masih sangat panas – dari alat pantau blog milik saya, baru saja diterbitkan oleh sang Narablog 6 menit yang lalu. Sebagai seorang pembaca diam-diam, saya klik tautan yang ada. Setelah selesai membacanya, saya bertanya dalam hati: apa iya seperti itu? Lanjut baca…

Share on Facebook

The Loreng: Army Look

Dalam dunia fesyen, jenis dan corak busana bermotif militer (army look) selalu saja terasa up to date. Motif yang paling terkenal adalah loreng. Asal-usul motif loreng ini sepertinya tidak terlepas dari upaya kamuflase dalam suatu peperangan. Loreng digunakan oleh tentara, baik untuk pakaian dinas lapangan maupun seragam kebanggaan Korps. Dilihat dari fungsi dan kegunaanya, loreng dapat melindungi pemakainya dari kecurigaan musuh. Bahkan untuk jenis tertentu, pakaian loreng dapat melindungi pemakainya dari duri atau perdu liar ketika mengintai musuh.

Bisa jadi karena modelnya unik inilah, dunia fesyen mengadopsinya disesuaikan dengan permintaan pasar. Penikmat fesyen model army look ini, dari semua kalangan dan lintas gender. Model loreng semacam itu, bisa dipakai untuk santai, jalan-jalan, atau ronda malam.

Secara fisik, orang sering terkecoh dengan penampilan saya. Model rambut saya yang selalu cepak ditunjang tinggi badan 170 cm, orang mengira saya ini seorang prajurit, bahkan ada yang menduga kalau pangkat saya Kapten!

Kemarin, saya menerima kiriman paket tali asih dari Pakde Cholik berupa sebuah buku (saya termasuk 10 top commentator BlogCamp 2009) yang terbungkus oleh kaos loreng. Lanjut baca…

Share on Facebook