Bergerak menuju ibu #3

Almamater secara harfiah berarti ibu susuan. Dalam bidang akademik almamater untuk menyebut perguruan tempat seseorang menyelesaikan suatu jenjang pendidikan.

[1]

Senin kemarin waktu saya pergi ke JOG, saya bertemu dengan adik kelas dua tingkat di bawah saya ketika kuliah dulu. Saya cukup akrab dengannya karena pernah sama-sama jadi aktivis kampus. Saya aktivis amatiran, ia aktivis betulan.

Pertemuan dua jam di bawah rerimbunan pohon di halaman Kampus UNY banyak hal yang kami obrolkan. Termasuk kisah nostalgi saat kami dulu memperjuangkan idealisme kami. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pawang bau badan

Barangkali sudah suratan nasib Mas Suryat, ketika ia berkali-kali berurusan dengan orang yang mempunyai bau badan semerbak “mewangi” yang sering mengganggu kenyamanan orang lain di sekitarnya.

Disebut berkali-kali artinya lebih dari sekali. Mas Suryat bukan menghindarinya, tetapi justru memberikan solusi bagaimana mengurangi – dan sokur-sokur bisa menghilangkan. Apa yang menjadi trik dan rahasianya?

[1]

Pada suatu hari, Mas Suryat dipanggil oleh Pak Bos. Ia mengeluhkan BB sopir yang saban hari melayaninya. Pak Bos ini orangnya berperasaan halus hingga sungkan untuk menegur sopirnya sendiri.

Mas Suryat mulai menyelidik. Ternyata, saban pagi setelah sampai di kantor, sopirnya Pak Bos ini rajin berolah raga lari. Tentu saja ia berkeringat. Namun sayangnya, cara hidup sehat semacam itu tak diimbangi dengan hidup bersih. Habis berolah raga, ia langsung mengenakan baju seragam sopirnya tanpa mandi dulu. Ia siap jika sewaktu-waktu ada panggilan untuk mengantar bos-nya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Tak ada tempat buat saya di Indonesia

12 tahun yang lalu hari-hari ini, saya kehilangan data riset saya hasil kerja selama 15 tahun. Komputer laptop terakhir saya ‘crash’ setelah berhari-hari menjalankan program rekonstruksi data pemindaian. Sebelumnya 2 komputer lain yang menyimpan data backup hangus tersambar petir, 2 lagi juga ‘crash’ terlebih dahulu karena tak mampu menjalankan program.

Ketika baru memulai membina riset di Indonesia selama 6 bulan, langit bagaikan runtuh, seolah-olah mengatakan: “Tak ada tempat buat saya di Indonesia.”

Tak ada ‘shock’ yang lebih berat dari itu yang pernah saya alami dalam hidup saya hingga membuat saya seminggu lebih tak mampu keluar rumah. Lanjut baca…

Share on Facebook