Tentang Banowati

Sudah satu setengah bulanan saya ndak menampilkan cerita wayang. Selama waktu itu saya tengah mengunyah sebuah umpan-balik dari salah satu pembaca buku Srikandi Ngedan dan Giliran Petruk Jadi Presiden.

Syahdan, kedua buku tersebut sengaja saya berikan kepada seorang kawan yang sangat senang dengan kisah pewayangan atau kisah yang berlatar budaya Jawa. Ia sendiri penggemar SH Mintardja sejak mudanya. Tak heran kalau ia memberikan nama anak lelakinya dengan nama muda Panembahan Senapati.

Sebetulnya ia sudah berusaha memperkenalkan kisah pewayangan kepada anak lelakinya itu – bahkan sering diajak nonton pagelaran wayang semalam suntuk, tetapi minat terhadap wayang tak begitu menggembirakan hati kawan saya itu. Anaknya bilang kalau sulit mencerna cerita wayang. Maka, ketika ia mendapatkan dua buku Wayang Slenco dari saya, ia tawarkan kepada anaknya untuk dibaca.

Waktu kawan saya bercerita kalau Srikandi dan Petruk dibaca anaknya, saya agak was-was. Maklum, Srikandi dan Petruk kan bacaan orang dewasa. Kawan saya menjamin tak apa-apa, toh anaknya itu sudah hampir lulus SMA.

***

Saya sungguh senang mendengar berita dari kawan saya itu kalau anak lelakinya sangat menyukai cerita wayang versi Srikandi dan Petruk. Sebetulnya, umpan-balik semacam ini sudah sering saya dengar atau baca dari email yang masuk. Survei kecil-kecilan saya, banyak pembaca Srikandi dan Petruk yang kini pada demen banget dengan kisah Mahabharata yang tayang di ANTV saban malamnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bercerita tentang kebun


Baru seminggu masuk kantor, rasa penat demikian cepat saya rasakan. Kalau sudah begini dan jika rasa jenuh mulai melanda, pelarian saya bermain ke nursery atau muter-muter kawasan mencari suasana hijau. Sungguh saya beruntung bekerja di Kawasan Industri yang peduli pada isu lingkungan, termasuk yang sangat memerhatikan penghijauan. Jika Anda berkunjung ke Kawasan Industri kami, dari mulai gerbang masuk akan disambut rimbun dan perkasanya pohon-pohon Ki Hujan yang dikawal oleh  bunga bougenvil yang tertanam sepanjang median jalan.

Lanjut baca…

Share on Facebook

Orang miskin jangan sakit

Sudah sebulan belakangan Bapak saya mengeluh nyeri pada sendi-sendinya. Menggerakkan apa saja berasa sakit. Jangankan menggerakkan tangan, untuk menengokkan kepalanya saja ia akan merasakan nyeri luar biasa.

Untuk mengobati rasa sakitnya, saya memberikan obat warung dan tentu saja tidak cespleng mengobati sakitnya Bapak. Lima tukang urut dan pijat saya datangkan ke rumah untuk mengobati nyeri yang dirasakan Bapak selama ini. Tak ada perubahan. Hingga pada akhirnya keluarga saya mendapatkan BPJS Kesehatan, Bapak saya bawa ke RSUD.

Karena Bapak tak bisa bergerak – sebab kalau bergerak akan merasakan sakit yang sangat – maka pelan-pelan Bapak kami angkat ke mobil pinjaman tetangga. Di ruang IGD hanya ada dokter umum yang piket, sebab hari itu hari Sabtu – apa hubungannya hari Sabtu dengan tidak adanya dokter spesialis yang piket – Bapak saya diperiksa secara standar. Istri dan adik saya yang berada di ruang IGD, sementara saya mesti ke loket pendaftaran untuk mendapatkan kamar inap.

Ketika saya kembali ke ruang IGD, pada tangan Bapak sudah dipasang selang infus dan kata dokter jaga, Bapak akan diperiksa secara teliti di hari Senin. Kami membawa Bapak ke kamar kelas tiga. Malam harinya Bapak tak bisa tidur karena rasa nyeri menyerangnya. Saya laporkan ke suster jaga dan pada infusnya diberikan obat anti nyeri dan obat tidur.

Kami agak tenang ketika Bapak dapat beristirahat. Saya bergantian jaga Bapak dengan istri dan adik saya. Tak mungkin kami bertiga berada di ruang sempit tempat Bapak dirawat, maka yang dua mesti keluar ruangan, di selasar RS misalnya.

Senin sore Bapak dikunjungi seorang dokter. Tak lama kemudian Bapak dibawa keluar ruang untuk dilakukan rontgen pada tulang belakangnya. Selasa pagi saya dipanggil ke ruang dokter – ia spesialis ortopedi – menjelaskan kondisi Bapak. Dokter tersebut menjelaskan kalau tulang belakang Bapak telah keropos dan perlu tindakan operasi segera. Sayangnya, RSUD tak bisa melayani operasi macam itu. Bapak dirujuk ke RSUD yang berada di kota propinsi. Lanjut baca…

Share on Facebook