30 S

Akhir bulan September, kira-kira tiga puluh empat tahun lalu.

Anak-anak sekolah menyesaki gedung bioskop. Kapasitas gedung tak sebanding dengan jumlah penonton. Membludak. Tak hanya hari itu, bahkan hari sebelum dan setelahnya tetap penuh sesak, sebab anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA diwajibkan menonton sebuah film di gedung bioskop yang terletak di wilayah kota. Bagi murid yang sekolahnya masih di radius perkotaan, mereka akan berjalanan kaki dengan berbaris rapi menuju gedung bioskop.

Saya ingat betul nama gedung bioskop tersebut, yakni Lawu Theatre di Karanganyar, sebuah kota kecil di lereng gunung Lawu, tempat kelahiran saya. Kenapa murid-murid sekolah diwajibkan nonton bioskop pada saat jam belajar? Mereka konon sedang belajar sejarah, dengan nobar film di gedung bioskop. Film yang diputar mengandung pelajaran sejarah bangsa yang terjadi pada tahun 1965. Ya, mereka sedang nobar film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI sebagai film pendidikan dan renungan karya Arifin C. Noer1. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mata air awet muda

Tiba-tiba saja saya teringat kepada sahabat lama ketika kami berdinas di salah satu perusahaan HPH di wilayah Kalimantan Tengah pada kurun waktu 1993 yang lalu. Ia menjadi sahabat sejati di perantauan tengah hutan, ketika senang ataupun sedih. Ia yang lebih senior bekerja di bidang HPH sering memberikan penghiburan kepada saya bagaimana mengobati rasa suntuk ketika ada keinginan keluar dari wilayah hutan.

Terakhir kali saya bertemu dengannya sekitar tahun 1996 di rumahnya yang terletak di sedikit di bawah puncak Gunung Lawu. Dengan berbekal ingatan letak tempat tinggalnya dan dibantu oleh Peta Gugel, H+3 kemarin saya mengunjunginya kembali.

Ketika saya sampai di sekitar desa sahabat saya itu, saya keder. Pangling dengan situasi wilayah tersebut. Apalagi saat itu wilayah puncak Lawu hujan turun sangat deras. Pelan tapi pasti saya pacu Kyai Garuda Seta menelusuri jalan cor-beton yang tidak seberapa lebar itu, untuk mencari rumah yang letaknya di pojokan simpang tiga Desa Balong Jenawi Karanganyar. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mandi kucing

Pada waktu SD dulu, saya jarang mandi pagi. Saya tak ingat alasan utama mengapa tidak mandi. Ritual pagi hanya raup Рcuci muka Рsaja, dan membahasi tangan dan kaki. Kemudian ganti baju dan berangkat ke sekolah.

Waktu itu saya dan teman-teman sekolah belum model bersepatu, masih dengan bertelanjang kaki. Menggunakan sandal (jepit) ke sekolah adalah pamali sehingga pilihan cuma dua saja: bersepatu atau nyeker.

Bisa dibayangkan betapa kusamnya kulit saya. Sudah berkulit hitam ditambah dilumuri daki. Kalau kulit saya terkena garuk, maka akan timbul bekas berwarna putih. Orang Jawa menyebut kulit mbekisak, bersisik. Lanjut baca…

Share on Facebook