Papringan belakang rumah

Membaca artikel Nostalgia Papringan-nya mBak Prih, mau ndak mau kenangan di masa kecil dulu muncul di benak ini. Saya ingin ikut bernostalgia pada sebuah papringan yang berada di belakang rumah.

Rumpun bambu yang saya maksud itu bukan merupakan properti keluarga saya, tetapi milik Pakde Wiryo. Papringan jadi pertanda pembatas tanah, tumbuh di pinggir kalen/sungai kecil. Di bawah papringan tersebut menjadi tempat favorit anak-anak untuk beraktivitas dolanan: benthik, kelereng, sarsur kulonan, pasaran, dan sebagainya. Tempatnya sangat sejuk.

Saya ingat, di salah satu sudut ada kuburan kecil, tempat bersemayamnya janin mBokde Wiryo yang lahir miskram. Setiap malam jumat selalu ada kembang setaman yang ditaburkan di atasnya. Kami yang bermain di sana pada waktu siang hari  tak ada rasa takut, tetapi kalau hari sudah malam tak satupun dari kami berani sendirian melewati papringan tersebut.

Waktu kecil kami sangat akrab dengan papringan itu. Lanjut baca…

Share on Facebook

FC IPA 3, Siapa Berani Lawan?

Saya tidak ingat, kenapa kami dahulu ketika klas 1 dan 2 SMA suka banget main bola. Siapa juga yang mendisain kaos olah raga abu-abu bergambar burung hantu yang sedang memikirkan sebuah hitungan: 1 + 1/3 kalau disusun ke bawah menjadi seperti 1 + 1 = 3. Kemudian di bawah gambar burung hantu tertulis 1 IPA 3. Pada saat kelas 2 dan klas 3, menggunakan kaos olah raga warna kuning – hijau. Dengan kaos-kaos itulah kami suka main bola.

Lapangan yang kami gunakan untuk main bola ada di sebelah barat rumah saya, sekarang sudah diberi nama Stadion 45, dulu lapangan ini terbuka hanya dibatasi tanggul, orang-orang menyebut Lapangan Umum. Kalau pas olah raga di sini, rumah saya sering dipakai sebagai tempat untuk ganti baju atau sekedar minum air putih setelah olah raga. Selain lapangan umum, kami juga menggunakan lapangan Tegalasri (di belakang kantor DPRD). Lanjut baca…

Share on Facebook

Dongeng ibu

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampungku. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Bethara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Aku patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainanku, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang itulah kegembiraan. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Pun dengan ibuku. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibuku dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanyaku.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya.

Aku pandangi bulan bundar dengan penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum ketika telah menemukan jawabannya.

“Ada seekor kelinci di sana,” jawabku mantap. Lanjut baca…

Share on Facebook