Dongeng ibu

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampungku. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Bethara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Aku patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainanku, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang itulah kegembiraan. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Pun dengan ibuku. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibuku dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanyaku.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya.

Aku pandangi bulan bundar dengan penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum ketika telah menemukan jawabannya.

“Ada seekor kelinci di sana,” jawabku mantap. Lanjut baca…

Share on Facebook

Tanpamu apa jadinya aku

Bocah laki-laki itu malu-malu memasuki ruang kelas. Sekolah Taman Kanak-kanak Siwi Peni, namanya. Bangunannya sederhana, dari gedek – anyaman bambu. O, bukan bangunan sekolahan yang berdiri sendiri namun salah satu ruang di rumah Eyang Sinder yang dijadikan ruang kelas.┬áBu Kadaryati – anak perempuan Eyang Sinder, yang menjadi guru TK Siwi Peni tersebut.

Jarak rumah bocah laki-laki itu ke TK Siwi Peni hanya sepelemparan sendal belaka. Sebetulnya keberadaan TK Siwi Peni tak asing baginya, sebab saban hari ia bermain di sana meskipun belum menjadi murid TK tersebut. Namun, hari itu sebagai hari pertamanya masuk sekolah. Makanya malu-malu.

Bu Kadaryati – ia disapa dengan sebutan Bu Yati saja, memanggil bocah laki-laki itu segera memasuki kelas dan duduk di kursinya. Ada sekitar lima belas atawa paling banyak dua puluh anak menjadi murid TK Siwi Peni. Semuanya berasal dari kampung yang sama. Mereka tak berseragam dan hanya satu-dua anak yang bersepatu, sedang lainnya bertelanjang kaki termasuk bocah laki-laki itu. Lanjut baca…

Share on Facebook

30 S

Akhir bulan September, hampir tiga puluh tahun lalu.

Anak-anak sekolah menyesaki gedung bioskop. Kapasitas gedung tak sebanding dengan jumlah penonton. Membludak. Tak hanya hari itu, bahkan hari sebelum dan setelahnya, sebab anak-anak sekolah dari tingkat SD hingga SMA diwajibkan menonton sebuah film di gedung bioskop yang terletak di wilayah kota. Bagi murid yang sekolahnya masih di radius perkotaan, mereka akan berbaris rapi menuju gedung bioskop.

Saya ingat betul nama gedung bioskop tersebut, yakni Lawu Theatre. Kenapa murid-murid sekolah diwajibkan nonton bioskop pada saat jam belajar? Mereka konon juga sedang belajar, walaupun tempatnya di gedung bioskop. Sebab, film yang diputar mengandung pelajaran sejarah bangsa yang terjadi pada tahun 1965. Ya, mereka sedang disuguhi film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI sebagai film pendidikan dan renungan karya Arifin C. Noer1. Lanjut baca…

Share on Facebook