Tak ada tempat buat saya di Indonesia

12 tahun yang lalu hari-hari ini, saya kehilangan data riset saya hasil kerja selama 15 tahun. Komputer laptop terakhir saya ‘crash’ setelah berhari-hari menjalankan program rekonstruksi data pemindaian. Sebelumnya 2 komputer lain yang menyimpan data backup hangus tersambar petir, 2 lagi juga ‘crash’ terlebih dahulu karena tak mampu menjalankan program.

Ketika baru memulai membina riset di Indonesia selama 6 bulan, langit bagaikan runtuh, seolah-olah mengatakan: “Tak ada tempat buat saya di Indonesia.”

Tak ada ‘shock’ yang lebih berat dari itu yang pernah saya alami dalam hidup saya hingga membuat saya seminggu lebih tak mampu keluar rumah. Lanjut baca…

Share on Facebook

SMAN 1 Karanganyar Juara Olimpiade Biologi Kedokteran 2015


Wajah Mas Zuhri nampak menegang ketika kedua anak asuhnya itu menjawab pertanyaan juri. Ia merasa sangat lega ketika pertanyaan juri dijawabnya dengan mudah. Apa pasalnya?

Mas Zuhri – Moh. Saifudin Zuhri, nama lengkapnya – adalah ketua Yayasan Bina Putra Karanganyar (BPK) dua hari ini sedang berada di Universitas Jember Jawa Timur dalam rangka mengemban misi mulia yakni berprestasi bersama Yayasan BPK. Ia mengantar (dalam arti seluas-luasnya) Hendra dan Arif, kedua adik kelas kami yang merupakan peserta didik SMAN Negeri 1 Karanganyar untuk mengikuti kegiatan Olimpiade Biologi Kedokteran 2015. Lanjut baca…

Share on Facebook

Saya masih mendengarkan RRI

Tahun 1980, di ruang sekolah SDN 1 Karanganyar paling ujung. Pak Suparmo berdiri di depan kelas 6 sedang mengajar mata pelajaran IPS. Anak-anak menyimak penuturan Pak Parmo.

“Anak-anak, siapa yang pernah ke Jenawi?” tanyanya kepada murid-murid. Jenawi adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang berada di lereng Gunung Lawu.

“Saya pernah, Pak. Kebetulan Pakde saya rumahnya di sana,” jawab seorang murid laki-laki.

Pak Parmo tersenyum, lalu berujar, “Tahukah kalian, kalau di Desa Balong Jenawi sana pernah terjadi peristiwa bersejarah pada saat agresi militer Belanda tahun 1948-1949? Saat itu, Radio Republik Indonesia yang berada di Desa Balong merupakan perangkat radio yang dilarikan dari Solo adalah satu-satunya RRI di Indonesia yang masih bertahan dan beroperasi. Melalui RRI yang berada di desa Balong itu, kedaulatan negara masih diakui oleh dunia internasional.” Lanjut baca…

Share on Facebook