Ario Wisanggeni menuntut pengakuan anak dari Arjuna

Bro, perempuan ndak pernah salah, dan kalau ia ternyata salah, kamulah penyebabnya. Jangan berusaha membuktikan bahwa ia salah, karena itu akan menjadi awal dari penderitaanmu. Mengalah sajalah Bro, dalam kasih sayang dan kelembutan, karena sebetulnya ia tahu kalau ia salah. Ia akan menyesuaikan diri. Jangan hanya kesal saat perempuan marah, tapi ingat juga saat ia sangat baik dan penyayang. Tanpa perempuanmu, hidupmu ndak akan komplit.

Banyak wanita, bahkan bidadari yang tersihir dan terpesona oleh serangkaian kalimat yang terucap dari lambe-nya Arjuna.

Adalah Dewasrani bidadari penghuni kahyangan yang tak lain adalah anaknya Bathari Durga, memendam rasa cemburu berat kepada Desranala yang juga bidadari. Kok cemburu toh mbak? Iya, soalnya Desranala dikawin oleh Arjuna beberapa bulan sebelumnya. Mereka saban hari berbulan madu di awan biru tiada yang mengganggu. Bulan madu di atas pelangi juga. Sak karepmu, namanya juga di kahyangan.

“Mami, tolong pisahin Desranala dari Arjuna dong!” rajuk Dewasrani pada Durga.

“Memang kamu cinta berat pada Arjuna?” goda Durga pada anak perempuannya itu. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sinta dalam gendongan Rahwana

Kelanjutan lakon Terpesona Kecantikan Sinta

Kepergian Rama dan Laksmana yang cukup lama, membuat Sinta gelisah. Berulang kali ia keluar dari tendanya untuk memastikan kalau suaminya itu segera kembali. Namun penantiannya sia-sia belaka. Maka, ia memutuskan menunggu kedatangan mereka di luar tenda.

Sinta dikagetkan oleh kedatangan seekor kijang emas yang berusaha mendekati tendanya. Kijang emas itu seperti menggoda Sinta. Tapi mengapa ia tidak bisa benar-benar mendekati Sinta? Rupanya garis lingkaran yang dibikin oleh Rama merupakan pagar gaib yang tidak bisa ditembus dari luar garis tersebut.

Melihat ada kijang yang demikian jinak, Sinta ingin menyusul Rama untuk memberitahukan kalau di sekitar tenda ada seekor kijang. Rama dan Laksmana tentu tidak perlu jauh-jauh ke dalam hutan untuk berburu. Tapi Sinta segera ingat pesan suaminya untuk tidak keluar dari garis lingkar yang telah dibikin sebelumnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Terpesona kecantikan Sinta

Sekuelnya Sarpakenaka Merayu Dua Lelaki

Pada waktu Sarpakenaka tiba di paviliun Rahwana, lelaki raksasa itu tengah membersihkan cureg di telinganya dengan bulu burung onta. Matanya merem-melek keenakan oleh kilikan ujung bulu yang mengenai lapisan tipis gendang telinganya.

“Mas Rahwana! Di luar sana ada dua ksatria yang akan mengobrak-abrik istana Alengka. Lihat luka di hidungku ini, mereka telah mengirisnya. Cepatlah bunuh mereka, sebelum mereka masuk ke istanamu!”

Rahwana yang tengah santai tersebut terkejut oleh suara nyaring Sarpakenaka dengan darah kental yang memboreh wajah adiknya itu. Serta merta ia bangkit dan menelisik lebih dalam lagi kalimat yang muncul dari mulut Sarpakenaka. Lanjut baca…

Share on Facebook