Pergilah, biar aku merasakan rindu!

Lanjutan dari: O, menikahlah denganku

Suasana keputren istana Dwarawati sepi. Para prajurit yang seharusnya menjaga wilayah yang khusus diperuntukkan bagi para putri kerajaan itu pada asyik menonton pertarungan Gatotkaca vs Baladewa yang memang sangat seru dan mendebarkan jantung siapa pun yang menyaksikannya.

Syahdan, kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Abimanyu untuk menemui tambatan hatinya. Sangat mudah baginya untuk sampai di kamar Siti Sundari. Mereka cepat bertindak untuk keluar dari keputren. Kemudian suasana di sana semakin senyap saja.

Sementara itu, Kresna sebagai tuan rumah merasa sangat malu sebab tidak bisa menjamin kenyamanan para tamunya. Tetapi begitu melihat pertarungan antara kakak dan keponakannya ia tak bisa tinggal diam. Lanjut baca…

Share on Facebook

O, menikahlah denganku

Diam-diam terjadi jalinan kisah asmara antara Siti Sundari dengan Abimanyu. Sejak Pandawa dalam masa pembuangan 13 tahun, Arjuna menitipkan Abimanyu – buah perkawinannya dengan Supraba – dalam pengasuhan Kresna. Hubungan kekerabatan antara Abimanyu dan Siti Sundari masih tergolong sepupuan, sebab Kresna merupakan pakdenya Abimanyu.

Karena mereka saling bertemu saban harinya, cinta mereka bersemi dan tumbuh dengan suburnya. Tentu saja, Kresna mengetahui hubungan tersebut dan ia sangat menyetujui jika ia kelak berbesanan dengan Arjuna.

“Aku akan melamarmu, dik!” ujar Abimanyu pada suatu senja.

***

Sementara itu di Hastinapura, Lesmana Madrakumara sedang merayu ayahnya untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri. Luka hati Lesmana belum sembuh betul ketika minggu lalu cintanya ditolak mentah-mentah oleh Pergiwa, gadis hitam manis yang lebih memilih Gatotkaca menjadi jodohnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pak Sastro priayi jantan

Dari JOG Kika mengabari saya kalau mBah Kung – untuk menyebut Sapardi Djoko Damono – punya novel baru berjudul Suti. Saya pun segera berburu buku dimaksud di toko buku langganan. Buku setebal 192 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2015) ini, saya baca hanya dalam satu dudukan.

Siapa sih yang tidak tersihir oleh kalimat-kalimat ajaib milik mBah Kung? Novel ini dibagi menjadi tiga babak. Perhatikan kalimat pembuka novel ini:

“Mblok, dah dengar ada orang baru?”

“Udah. Yang namanya Den Sastro itu, kan? Yang katanya dulu tinggal di Ngadidayan itu, kan?”

“Kemarin lakiku dipanggil, disuruh bikin sumur. Kerja bapak itu di mana, sih?”

“Mana aku tahu?”

“Ganteng banget priayinya, edan tenan! Cakrak seperti Prabu Kresno hehehe.”

Penulis sekaliber mBah Kung tentu saja pandai membikin kalimat yang menarik yang membuat pembaca jatuh cinta pada bacaan pertama. Lanjut baca…

Share on Facebook