Asmarandana untuk Arjuna

Kisah di bawah ini sebagai lanjutan dari lakon Aku Bisa Mengintip Fesbukmu.

Sesungguhnya hati Sembadra bimbang, dengan semua bukti yang kini ada di tangannya. Apakah dengan menunjukkan bukti kepada Arjuna, kalau rumah tangga Duryodana-Banowati baik-baik saja bahkan bisa dikatakan sangat harmonis, suaminya itu akan serta-merta menjauhi Banowati atau malah sebaliknya akan menghancurkan rumah tangga Raja Hastinapura itu?

Sembadra menimbang-nimbang, kepada siapakah ia ingin bercurhat? Kepada kakak tercintanya, Bathara Kresna-kah? Atau kepada Srikandi, istri Arjuna selain dirinya? Semalaman Sembadara berfikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan persoalan tersebut kepada Kyaine Semar Badranaya.1 Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [7]

Sementara itu di alun-alun Amarta sedang dipersiapkan pasukan untuk menghadang kedatangan pasukan Kerajaan Trancanggribig yang dikabarkan akan menyerang Kerajaan Amarta. Kepala pasukan masing-masing kompi mempersiapkan para prajuritnya. Mereka segera berkelompok menurut pasukannya, yakni pasukan jalan kaki, pasukan berkuda, pasukan pemanah dan pasukan gajah.

Siapa pun yang menyaksikan gelaran masukan Amarta tersebut akan bergidik hatinya, inikah perang pemanasan sebelum pecahnya perang Bharatayuda? Tetapi apel siaga para prajurit Kerajaan Amarta segera dibubarkan oleh Yudhistira atas perintah Bathara Kresna. Sia-sia saja mengerahkan ribuan prajurit, toh akan kalah juga.

***

Kabar tentang rencana peperangan kedua negeri ini telah menyebar ke mana-mana, tak terkecuali terdengar pula oleh Prabu Petruk. Kepala telik sandi Loji Tenggara segera menghadap Prabu Petruk yang baru saja mengadakan kegiatan blusukan.

Sebagai kepala telik sandi yang masih kinyis-kinyis, ia ingin menunjukkan kemampuan dalam olah-warta di dunia keteliksandian di hadapan Prabu Petruk. Beberapa hari yang lalu ia telah lolos fit and proper test di muka para anggota dewan rakyat Loji Tenggara.  Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [6]

Suasana di balairung istana Amarta tegang. Yudhistira yang biasanya sabar, wajahnya berwarna kesumba, tanda menahan amarah. Werkudara alias Bima yang biasanya mudah tersulut emosi kali ini bingung melihat sikap kakaknya itu. Tentu saja bingung, wong Bima ndak tahu ada masalah apa sehingga ia dipanggil supaya berkumpul di balairung.

Di tangan kanan Yudhistira tergenggam secarik kertas. Bima belum berani membuka pembicaraan, sebab Yudhistira bilang akan memulai rapat setelah anggota Pandawa lengkap. Mereka menunggu kedatangan Arjuna.

“Akhirnya kamu datang juga, Jun. Istrimu masih ngambek?” tanya Bima ketika melihat Arjuna memasuki balairung.

“Marah perkara apa lagi?” Yudhistira ikut nimbrung bertanya.

Belum sempat Arjuna menjawab pertanyaan-pertanyaan kakaknya, Yudhistira berbicara lagi. Lanjut baca…

Share on Facebook