Petruk mantu [4]

Woro Sembadra yang ngidam, Arjuna yang puyeng. Sebagai suami dari banyak istri, keinginan Sembadra saat ngidam kali ini dinilai oleh Arjuna lain dari pada yang lain dibandingkan dengan istri-istrinya. Sembadra minta dicarikan ikan emas bersisik permata. Sebuah keinginan yang sulit jika tak boleh dibilang mustahil.

Arjuna segera menghubungi Kresna untuk minta petunjuk. Kresna meminjami Arjuna sebuah jaring, bukan sembarang jaring sebab terbuat dari benang sutra. Jaring itu dinamakan Jalasutra. Jika tali jaring putus – meskipun hanya seutas saja – maka jaring tersebut tidak berfungsi sama sekali.

Untuk mencari ikan emas bersisik permata Arjuna mengajak Gareng untuk membantunya. Sebagai punakawan kesayangan keluarga Pandawa, Gareng mendampingi majikannya itu dengan senang hati. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Kresna, mereka segera menuju lubuk sungai di tengah hutan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [3]

Prabu Pandupergola gelisah setelah tahu kalau anak perempuannya berpacaran dengan Lengkung Kusumo, anak lelaki Petruk. Kenapa mesti gelisah? Bukankah ia mestinya bangga akan mendapatkan besan seorang raja?

Perasaannya semakin tidak karuan setelah mendapatkan kabar kalau minggu depan rombongan Prabu Petruk akan datang ke Trancanggribig untuk melakukan lamaran. Kabar itu dibawa langsung oleh utusan dari istana Loji Tenggara.

“Kenapa bapak kelihatan ngelu begitu? Apa utusan dari Loji Tenggara membawa kabar buruk?” tanya Nalawati kepada Prabu Pandupergola. Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [2]

Suhu perpolitikan Kerajaan Loji Tenggara selalu mendidih setelah tampuk pimpinan dipegang oleh Prabu Welgeduwelbeh alias Prabu Petruk. Semenjak Petruk secara tak sengaja ketitipan Jamus Kalimasada ia didaulat oleh rakyat Loji Tenggara menjadi raja. Sungguh ia raja yang independen, bukan raja boneka yang dikendalikan oleh dalang politik di belakang layar.

Sebab apa suhu perpolitikan di Loji Tenggara selalu panas membara? Petruk yang semula hanya punakawan atau abdi dalem tiba-tiba nasibnya melonjak menjadi raja. Tentu saja, ia tak punya pengalaman dalam pemerintahan, sehingga ia memimpin Loji Tenggara dengan bantuan nalurinya sebagai abdi atau emban. Ia sadar kalau apa yang ia lakukan harus mengemban rakyat kebanyakan. Kebijakan yang ia ambil sering dinilai lucu dan tak masuk akal bagi lawan politiknya. Inilah yang membikin suhu politik memanas. Lanjut baca…

Share on Facebook