Petruk mantu [5]

Penampilan Gareng sekarang seperti raja betulan. Tapi ia belum menyadari apa yang terjadi sampai datangnya segerombolan prajurit kerajaan yang tiba-tiba menghaturkan sembah kepadanya.

“Akhirnya kami menemukan Paduka Raja Pandupergola di sini. Saya dan para prajurit semingguan ini mengelilingi kerajaan untuk mencari keberadaan Paduka,” kata pimpinan prajurit kepada Gareng.

Loh… sebentar. Kalian ini siapa, kok tiba-tiba menghaturkan sembah kepadaku? Aku tidak mengenal kalian!” ujar Gareng kebingungan.

“Paduka mbok jangan guyonan gitu dong. Saya patih Kerajaan Trancanggribig yang Paduka pimpin. Mari kita pulang ke keraton, kerabat istana telah merindukan Paduka,” ajak Patih Kerajaan, ramah. Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [4]

Woro Sembadra yang ngidam, Arjuna yang puyeng. Sebagai suami dari banyak istri, keinginan Sembadra saat ngidam kali ini dinilai oleh Arjuna lain dari pada yang lain dibandingkan dengan istri-istrinya. Sembadra minta dicarikan ikan emas bersisik permata. Sebuah keinginan yang sulit jika tak boleh dibilang mustahil.

Arjuna segera menghubungi Kresna untuk minta petunjuk. Kresna meminjami Arjuna sebuah jaring, bukan sembarang jaring sebab terbuat dari benang sutra. Jaring itu dinamakan Jalasutra. Jika tali jaring putus – meskipun hanya seutas saja – maka jaring tersebut tidak berfungsi sama sekali.

Untuk mencari ikan emas bersisik permata Arjuna mengajak Gareng untuk membantunya. Sebagai punakawan kesayangan keluarga Pandawa, Gareng mendampingi majikannya itu dengan senang hati. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Kresna, mereka segera menuju lubuk sungai di tengah hutan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Petruk mantu [3]

Prabu Pandupergola gelisah setelah tahu kalau anak perempuannya berpacaran dengan Lengkung Kusumo, anak lelaki Petruk. Kenapa mesti gelisah? Bukankah ia mestinya bangga akan mendapatkan besan seorang raja?

Perasaannya semakin tidak karuan setelah mendapatkan kabar kalau minggu depan rombongan Prabu Petruk akan datang ke Trancanggribig untuk melakukan lamaran. Kabar itu dibawa langsung oleh utusan dari istana Loji Tenggara.

“Kenapa bapak kelihatan ngelu begitu? Apa utusan dari Loji Tenggara membawa kabar buruk?” tanya Nalawati kepada Prabu Pandupergola. Lanjut baca…

Share on Facebook