Leo Tolstoi, novelnya banyak dibaca di dunia

Leo Tolstoi (9 Sept 1828 – 20 Nov 1910) adalah pujangga besar Rusia bernama lengkap Lev (Leo) Nikolayevich Tolstoi terkenal terutama karena novel epik sejarahnya, Voina i Mir (Perang dan Damai) mengenai perlawanan rakyat Rusia terhadap invasi Napoleon pada tahun 1812. Di dalam perlawanan itu kaum bangsawan dan rakyat biasa bahu membahu membela tanah airnya. Namun, karya Tolstoi yang paling luas dibaca dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing adalah novelnya yang kedua, Anna Karenina, yang menyoroti kehidupan pribadi kaum bangsawan dan golongan high society Rusia pada zamannya.

Tolstoi dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah golongan ningrat, karena itulah ia bisa menggarap tema novel itu dari sudut pandang orang dalam. Beberapa anggota keluarganya tercatat dalam sejarah Rusia sejak abad ke-16, bahkan ayahnya Graf (Comte) Nikolai Ilyich Tolstoi ambil bagian dalam perang melawan Napoleon pada 1812-1814 dengan pangkat letnan kolonel. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pewaris tahta Sultan

Judul: Noto: Tragedi, Cinta dan Kembalinya Sang Pangeran • Penulis: Prijono Hardjowirogo • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Juli 2014) • Tebal: 325 halaman

Dalam sekejap Noto menjadi anak yatim piatu, pasalnya rumahnya ter(di)bakar orang tak dikenal. Noto dapat diselamatkan oleh bapaknya setelah dilempar dari dalam rumah yang terbakar tersebut, sementara bapak dan ibunya tak sempat menyelamatkan diri. Dari Boyolali, Noto yang baru lulus SD itu berjalan kaki ke Solo untuk mencari rumah kerabatnya. Setting waktu: Indonesia sedang ada ontran-ontran Gestok 1965.

Noto ngenger pada keluarga Den Sostro seorang ningrat dari Keraton Surakarta. Noto sendiri diopeni oleh Giman dan Waginah, pembantu di rumah Den Sostro. Jika semula ketika masuk SMP ia dipandang sebelah mata oleh kepala sekolah, belakangan Noto ternyata anak yang sangat cerdas terutama di bidang matematika. Kepandaiannya membuat terkesima guru matematikanya.

Encer betul otak Noto, maka tak sulit baginya mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan pada suatu kesempatan mendatangi Keraton Surakarta, ia menunjukkan kemahirannya menari Jawa halus mengikuti para puteri keraton yang sedang belajar menari. Ia akhirnya nanti menjadi murid sekolah sendratari di keraton.

Di sana ia berkenalan dengan Yanti, anaknya Pangeran Anggoro atau cucu dari Ngarso Dalem penguasa Keraton Surakarta. Noto yang dianggap bukan berdarah biru tidak disenangi oleh Pangeran Anggoro. Lanjut baca…

Share on Facebook

Membuka wawasan dengan traveling

Tumpukan nisan tanpa nama di museum ini membuatku tercekat menahan haru, membayangkan keluarga yang ditinggalkan tanpa tahu kejelasan nasib anak atau suami. Bagaimana perasaan orang yang tahu bahwa ia akan terkubur tanpa tanda pengenal?
[Monda Siregar dalam Blogger Walking hal 25]

Saya termasuk orang yang beruntung, sebab paling ndak dalam setahun dapat melakukan traveling dengan memanfaatkan cuti kantor yang saya ambil. Akan lebih beruntung lagi, nekjika ada tanggal-tanggal merah berderet tiga – ditambah pas ada bajet, tentu saja – dapat saya manfaatkan untuk traveling. Kadang libur sabtu-minggu saya manfaatkan juga untuk traveling jarak dekat. Tujuannya untuk menyegarkan jiwa dan fikiran setelah sekian lama berkutat masalah pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.

Tentu Anda setuju kalau saya bilang traveling itu banyak sekali manfaatnya. Setidaknya saya mencatat beberapa manfaat di antaranya (1) Traveling dapat membuka wawasan kita. Tak terbatas pada pengetahuan dan pengalaman, misalnya bagi pelajar, nilai 9 pelajaran sejarah tak ada artinya jika ia belum pernah masuk museum atau mendatangi situs sejarah yang diajarkan di sekolah. Bagi pengusaha, traveling akan membuka wawasan bisnisnya; (2) Dengan traveling, kita belajar bertoleransi. Ternyata di luar dunia/lingkungan kita terdapat aneka macam bahasa, adat dan budaya yang sangat berbeda dengan milik kita; dan (3) Traveling sebagai investasi memori di masa depan. Lanjut baca…

Share on Facebook