Membuka wawasan dengan traveling

Tumpukan nisan tanpa nama di museum ini membuatku tercekat menahan haru, membayangkan keluarga yang ditinggalkan tanpa tahu kejelasan nasib anak atau suami. Bagaimana perasaan orang yang tahu bahwa ia akan terkubur tanpa tanda pengenal?
[Monda Siregar dalam Blogger Walking hal 25]

Saya termasuk orang yang beruntung, sebab paling ndak dalam setahun dapat melakukan traveling dengan memanfaatkan cuti kantor yang saya ambil. Akan lebih beruntung lagi, nekjika ada tanggal-tanggal merah berderet tiga – ditambah pas ada bajet, tentu saja – dapat saya manfaatkan untuk traveling. Kadang libur sabtu-minggu saya manfaatkan juga untuk traveling jarak dekat. Tujuannya untuk menyegarkan jiwa dan fikiran setelah sekian lama berkutat masalah pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.

Tentu Anda setuju kalau saya bilang traveling itu banyak sekali manfaatnya. Setidaknya saya mencatat beberapa manfaat di antaranya (1) Traveling dapat membuka wawasan kita. Tak terbatas pada pengetahuan dan pengalaman, misalnya bagi pelajar, nilai 9 pelajaran sejarah tak ada artinya jika ia belum pernah masuk museum atau mendatangi situs sejarah yang diajarkan di sekolah. Bagi pengusaha, traveling akan membuka wawasan bisnisnya; (2) Dengan traveling, kita belajar bertoleransi. Ternyata di luar dunia/lingkungan kita terdapat aneka macam bahasa, adat dan budaya yang sangat berbeda dengan milik kita; dan (3) Traveling sebagai investasi memori di masa depan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Amurwa Bhumi, Dongeng Dari Istana Bawah Tanah

Panjenengan saya kasih tahu – semoga sebagian besar dari pembaca belum pada tahu – bahwa Pak Langit Kresna Hariadi (LKH) mencetak ulang novelnya yang berjudul Candi Murca (CM) yang masih menggantung di jilid 4: Ken Dedes Sang Ardhanareswari. Jika CM dicetak dan diterbitkan melalui LKH Production miliknya, cetak ulang yang diberi judul Amurwa Bhumi dengan sub judul Cleret Taun ini diterbitkan oleh Metamind (Solo, 2014).

Amurwa Bhumi ini tebal sekali, yakni 988 halaman yang kurang-lebih merupakan gabungan CM 1 dan 2 yang diedit ulang. Bagi panjenengan yang suka dengan tokoh Ken Arok, Amurwa Bhumi cukup banyak menampilkan Hantu Padang Karautan itu daripada waktu di CM 2. Lanjut baca…

Share on Facebook

Asmarani datang dari Salatiga

Sampai sekarang saya masih memburu novel Pak Suparto Brata yang berjudul Trem. Bahkan sampai ke pasar loak, tapi saya belum mendapatkannya.

Siapa itu Suparto Brata? Ia penulis kelahiran Surabaya tahun 1932 yang hingga saat ini masih sangat produktif menulis dan menerbitkan novel. Saya suka sekali membaca novel-novel Pak Brata, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Jawa.

Tokoh dalam novel-novel karya Pak Brata diceritakan secara detil, sehingga saya kadang ikut terlarut ke dalam perasaan si tokoh. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan Pak Brata dalam setiap bukunya yaitu menyampaikan pesan betapa pentingnya membaca buku dan menghargai sastra. Dengan membaca wawasan akan terbuka semakin luas, dan dengan sastra akan membentuk budi pekerti yang baik. Lanjut baca…

Share on Facebook