Amurwa Bhumi, Dongeng Dari Istana Bawah Tanah

Panjenengan saya kasih tahu – semoga sebagian besar dari pembaca belum pada tahu – bahwa Pak Langit Kresna Hariadi (LKH) mencetak ulang novelnya yang berjudul Candi Murca (CM) yang masih menggantung di jilid 4: Ken Dedes Sang Ardhanareswari. Jika CM dicetak dan diterbitkan melalui LKH Production miliknya, cetak ulang yang diberi judul Amurwa Bhumi dengan sub judul Cleret Taun ini diterbitkan oleh Metamind (Solo, 2014).

Amurwa Bhumi ini tebal sekali, yakni 988 halaman yang kurang-lebih merupakan gabungan CM 1 dan 2 yang diedit ulang. Bagi panjenengan yang suka dengan tokoh Ken Arok, Amurwa Bhumi cukup banyak menampilkan Hantu Padang Karautan itu daripada waktu di CM 2. Lanjut baca…

Share on Facebook

Asmarani datang dari Salatiga

Sampai sekarang saya masih memburu novel Pak Suparto Brata yang berjudul Trem. Bahkan sampai ke pasar loak, tapi saya belum mendapatkannya.

Siapa itu Suparto Brata? Ia penulis kelahiran Surabaya tahun 1932 yang hingga saat ini masih sangat produktif menulis dan menerbitkan novel. Saya suka sekali membaca novel-novel Pak Brata, baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Jawa.

Tokoh dalam novel-novel karya Pak Brata diceritakan secara detil, sehingga saya kadang ikut terlarut ke dalam perasaan si tokoh. Satu hal yang tidak pernah ditinggalkan Pak Brata dalam setiap bukunya yaitu menyampaikan pesan betapa pentingnya membaca buku dan menghargai sastra. Dengan membaca wawasan akan terbuka semakin luas, dan dengan sastra akan membentuk budi pekerti yang baik. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bersama Kartini di 2014#3

Saya kembali dari toilet, di lobby hotel sudah ada ketiga puteri Jepara yang sedang ngobrol bareng Nyonya Abendanon. Saya bermaksud pamitan, karena tugas saya sudah selesai mengantar trio puteri Adipati Jepara dengan selamat bertemu dengan orang yang dituju sesuai pesan RMA Sosroningrat.

Tapi Kartini menahan maksud saya dan mengajak saya mengudap snack dan ngopi-ngopi dulu. Kami berjalan ke arah Den Haag Café. Vegetarisme itu doa tanpa kata kepada Yang Maha Tinggi. Saya jadi teringat kata-kata Kartini tadi pagi.

Kami duduk di bangku di pojok ruangan. Nyonya Abendanon masih memegang ipet saya. Ia asyik betul dengan sabak1 modern itu. Tiba-tiba Nyonya Abendanon mengamati wajah saya, kemudian matanya menatap ke layar ipet. Begitu berulang-ulang. Lanjut baca…

Share on Facebook