Buku ketiga saya berjudul Giliran Petruk Jadi Presiden

Mari belajar politik dari kisah wayang.

Wayang memang tak bisa lepas dari dunia politik. Pagelaran lakon wayang penuh dengan pelajaran ilmu politik dalam arti yang luas. Ada intrik untuk mendapatkan kekuasaan, mengalahkan lawan, bahkan menyusun tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Seperti ilmu yang lain, ilmu politik pun demikian. Jika dimanfaatkan dengan salah ia akan menghancurkan dan jika dimanfaatkan dengan benar ia akan menyejahterakan.

Di dalam kisah perwayangan, ada tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari perkara perpolitikan kekuasaan. Ia hidup sepanjang zaman, bahkan hingga sekarang. Ia bernama Sengkuni.

Suatu ketika, Prabu Destarasta ingin menghadiahi anak-anak Pandu hamparan tanah yang cukup luas untuk mendirikan sebuah kerajaan. Semenjak Pandu mangkat, dan ia menjabat sebagai raja Hastinapura, otomatis anak-anak Pandu yang berjumlah lima orang yang semuanya lelaki itu di bawah pengasuhannya. Untuk merealisasikan keinginannya itu Prabu Destarasta meminta pendapat patihnya, Sengkuni. Lanjut baca…

Share on Facebook

Buku kedua saya berjudul Srikandi Ngedan

Persentuhan saya dengan dunia wayang dikenalkan oleh orang tua saya. Hanya sekedar senang saja menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Setidaknya, saya pernah beberapa kali menyaksikan aksi dalang terkenal Ki Anom Suroto atawa Ki Manteb Sudarsono memainkan wayang kulit. Saya ingat betul bagaimana ibu saya akan membangunkan saya ketika adegan goro-goro dimulai, sebab pada adegan ini banyak hal lucu yang terjadi dalam dialog para Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Esensi cerita wayang sendiri baru saya pahami ketika saya berada di bangku SMA. Lanjut baca…

Share on Facebook

Buku pertama saya berjudul KSADT

Seperti saya ceritakan dalam artikel sebelumnya, kalau saya sedang siap-siap menerbitkan 2 (dua) judul buku. Saya aktif ngeblog sejak Oktober 2008 dan hingga saat ini sudah lebih dari seribu tiga ratus artikel yang saya publikasikan di blog saya. Tak ada artikel yang berat menurut saya, memang karena kemampuan menulis saya masih pada tataran ringan interesan.

Saya berfikir kenapa tulisan sebanyak itu tidak saya rangkum menjadi buku saja. Apalagi blog saya termasuk blog berbayar, bukan gratisan, yang artinya saban tahun saya mesti membayar biaya sewa hosting dan domain. Kalau telat bayar, blog saya bakalan diblokir sementara dan nekjika nggak bayar-bayar ya ditutup. Maka, cara jitu untuk menyimpan tulisan-tulisan saya supaya bisa disentuh, ┬ádibuka lembaran-lembarannya, dibaca, dan disimpan di rak lemari saya tampilkan dalam bentuk buku cetakan. Lanjut baca…

Share on Facebook