Nge-grab di Yogyes

Dalam bulan Agustus kemarin, saya dua kali mengunjungi Jogja. Tak seperti biasanya – minta tolong ke mas Yoga carikan mobil rental – kali ini saya memanfaatkan transportasi online. Lebih murah, pastinya.

Banyak cerita menarik yang saya gali dari para supir yang mengantar saya. Sekali saya pancing dengan pertanyaan, banyak kisah yang keluar dari mulut mereka.

(1)

Anak saya juga lulusan UGM. Ia seorang dokter yang saat ini ambil spesialis. Adiknya sedang ambil kuliah di UIN, sedang yang bungsu masih SMA. Jadi supir adalah jiwa saya. Dulu saya supir bus, kemudian beralih ke angkot. Saya menyekolahkan anak-anak dari nyupir. Makanya, begitu ada online saya mendaftar.

Mobil yang saya pakai ini dibelikan oleh anak saya yang dokter itu. Silakan bapak tetap nyupir, tapi pakai mobil yang baru ya. Demikian kata anak saya. Sebagai orang tua, saya bangga kepada anak-anak saya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sambalewa

Hari ini saya tak mampu menaklukkan kemacetan Tol Japek yang hari-hari ini sedang ada proyek konstruksi Japek Elevated. Dalam kondisi normal, Bandara HLP bisa saya jangkau kisaran satu setengah jam, jika berangkat dari rumah. Potensi macet sebetulnya sudah saya perhitungkan, tetapi saya salah prediksi bahwa ternyata di hari Sabtu kepadatan lalin sama seperti hari kerja.

Perjalanan ke Jakarta saya tempuh dalam waktu lebih dari tiga jam. Jadwal pesawat saya ke Surabaya jam 15.45. Dan saya sampai di counter check in Bandara HLP jam 15.20. Pintu pesawat sudah ditutup, dan saya disarankan untuk ikut penerbangan berikutnya. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mata air awet muda

Tiba-tiba saja saya teringat kepada sahabat lama ketika kami berdinas di salah satu perusahaan HPH di wilayah Kalimantan Tengah pada kurun waktu 1993 yang lalu. Ia menjadi sahabat sejati di perantauan tengah hutan, ketika senang ataupun sedih. Ia yang lebih senior bekerja di bidang HPH sering memberikan penghiburan kepada saya bagaimana mengobati rasa suntuk ketika ada keinginan keluar dari wilayah hutan.

Terakhir kali saya bertemu dengannya sekitar tahun 1996 di rumahnya yang terletak di sedikit di bawah puncak Gunung Lawu. Dengan berbekal ingatan letak tempat tinggalnya dan dibantu oleh Peta Gugel, H+3 kemarin saya mengunjunginya kembali.

Ketika saya sampai di sekitar desa sahabat saya itu, saya keder. Pangling dengan situasi wilayah tersebut. Apalagi saat itu wilayah puncak Lawu hujan turun sangat deras. Pelan tapi pasti saya pacu Kyai Garuda Seta menelusuri jalan cor-beton yang tidak seberapa lebar itu, untuk mencari rumah yang letaknya di pojokan simpang tiga Desa Balong Jenawi Karanganyar. Lanjut baca…

Share on Facebook