Putri Johar Manik

Kerajaan Baghdad sibuk sekali pagi itu. Mereka tengah mempersiapkan keberangkatan Raja Abbas yang akan berangkat beribadah haji ke Tanah Suci. Seluruh keluarga besar kerajaan berkumpul di balairung istana untuk melepas kepergian junjungan mereka.

Di tengah hingar-bingar upacara pelepasan keberangkatan, Raja Abbas memanggil putri bungsunya, Johar Manik. Gadis cantik usia belasan tahun itu pun segera bersimpuh di depan ayahnya.

“Anakku, selama aku tinggal beribadah haji di Tanah Suci tetaplah belajar pada Guru Mustakim. Aku berharap ketika pulang nanti engkau telah menyelesaikan pelajaranmu.” Lanjut baca…

Share on Facebook

Randédit

Sehabis libur akhir tahun, kawan kita – Kamingsun – kantongnya kempes. Bahkan boleh dibilang kempes sekempes-kempesnya. Semua itu tidak diambil pusing oleh Kamingsun. Uang habis ya cari lagi. Sesederhana itu saja cara berfikirnya.

Kemarin Kamingsun dan keluarganya mengisi liburan di kampung halaman. Tak ada objek wisata yang mereka kunjungi. Mereka menyebut liburan silaturahmi, sebab kegiatan selama libur mereka mengunjungi sanak-kadang dan teman-teman sekolah dulu. Silaturahmi dapat memperpanjang umur dan memperluas cakupan rejeki, demikian keyakinan Kamingsun. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sorban Ajisaka

Lanjutan dari Algojo Prabu Dewatacengkar

Masih duduk di kursinya, Algojo membuka map dan jemarinya menuju tumpukan kertas paling bawah. Sejurus kemudian ia lepaskan dari binder, lalu ia perhatikan nama di sana: Ajisaka. Kata-kata yang sudah terucap dari mulut Algojo tak bisa ditarik kembali. Hari itu memang jatahnya Ajisaka untuk dibawa ke istana bertemu dengan Prabu Dewatacengkar.

Tanpa perlawanan, Ajisaka menuruti perintah Algojo untuk naik ke sebuah truck tua yang selama ini menjadi kendaraan Algojo berkelana keliling negeri.

“Aku lihat tak ada takut di raut wajahmu!” Lanjut baca…

Share on Facebook