Petualangan si Emak

Pulang dari melempar jumrah Aqabah, terjadi kehebohan di tenda kami di Mina. Salah satu anggota kelompok kami belum kembali. Ditunggu sampai siang tidak nongol juga. Kalau yang belum kembali ini umurnya masih muda kami tidak terlalu kuatir, tapi ini seorang nenek yang usianya sekitar 65 tahun, ia biasa kami panggil si Emak. Ia melaksanakan ibadah haji tidak ada keluarga yang mendampinginya.

Sebelum subuh kami berangkat untuk melempar jumrah beranggota lengkap, tapi begitu selesai sampai di tenda kok hilang satu, ya si Emak itu. Selepas dzuhur kami mendapatkan kabar ada seorang nenek masuk rumah sakit. Oh iya, ada info yang beredar, terjadi insiden jamaah berdesakan saat melempar jumrah, salah satu anggota kelompok kami ada yang terpeleset sampai tangannya patah (sampai di tanah air kemarin tangannya masih di-gips). Mendengar kabar kalau ada seorang nenek masuk RS, Pak Haji – ketua rombongan KBIH kami, bergegas pergi ke rumah sakit. Harap-harap cemas kami menunggu kabar itu, tetapi setelah Pak Haji pulang kami harus kecewa karena bukan si Emak yang dirawat di RS tersebut. Lanjut baca…

Share on Facebook

Enaknya Punya Saudara yang Jadi TKI/TKW

Salah satu pemandangan di depan maktab tempat saya suka duduk, di sana tergelar karpet yang cukup luas. Karpet itu dipergunakan bagi jamaah menerima tamu. Lalu siapa tamu itu? Mereka adalah orang yang telah lama mukim di Mekkah jadi TKI/TKW. Jadi mereka ini mengunjungi saudaranya yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Mereka berkunjung naik mobil sedan mahal (entah punya sendiri atau majikannya ya), membawa oleh-oleh yang banyak. Kadang sambil menunggu saudaranya turun dari lantai 7 menemui mereka, saya ajak berbincang. Tujuan saya ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai adat istiadat dan karakter orang arab, Mekkah khususnya. Informasi ini sangat bermanfaat jika suatu saat saya pergunakan untuk berkomunikasi dengan sopir taxi/angkot atau dengan para pedagang saat saya berbelanja.

Teman saya bertanya kepada saya, apakah saya mempunyai saudara yang bekerja sebagai TKI/TKW di sini? Saya jawab tidak punya. Saya balik bertanya, dan dijawab olehnya kemarin dia dikunjungi saudaranya itu.

“Enak dong kang dapat oleh-oleh banyak, bagi-bagi ya?” canda saya.

“Enak apanya mas, wong saya malah ketitipan barang untuk disampaikan ke saudara-saudara di kampung sana. Itu kan mengurangi jatah bagasi saya kan?”, jawabnya.

Koper kami dijatah oleh pihak penerbangan hanya boleh membawa barang maksimal 32 kg!

Share on Facebook

Hajj…Hajj… Halal…Halal…

Di waktu luang sering saya pergunakan untuk sosialisasi dengan jamaah lain. Dengan latar belakang yang berbeda-beda membuat pengalaman batin saya semakin bertambah. Tempat ngobrol paling nikmat ada di depan maktab, duduk di dekat tangga masuk maktab.

Sedang seru-serunya ngobrol, dari jalan depan maktab (maktab saya terletak di Al Madinah Al Munawarah Road – akses jalan yang cukup ramai) terlihat mobil Alphard berhenti kemudian kacanya terbuka dan dari dalam terdengar teriakan: hajj…hajj.. halal..halal… Saya ragu untuk mendekat, tetapi setelah orang yang di dalam mobil melambaikan tangannya saya pun bergegas ke sana. O, rupanya mereka (yang ada di mobil ada 4 orang) membagikan kardus-kardus berisi kue. “Halal..halal…(boleh…boleh..)” katanya. Saya pun memanggil teman-teman untuk ikut mendapatkan kue.

Mobil berlalu, saya tanya kepada petugas hotel dalam rangka apa mereka memberi kue kepada kami. Dan saya mendapatkan penjelasan bahwa orang-orang Mekkah pada musim haji seperti ini senang melakukan sedekah kepada jamaah haji. Mereka mendatangi maktab-maktab untuk membagikan sedekahnya.

Dan benar saja, setiap hari saya mendapatkan sedekah itu. Ada yang berupa nasi, kue, minuman atawa buah-buahan segar.

Pantas saja orang Mekkah rejekinya lancar, wong banyak sedekahnya gitu sih!

Share on Facebook