Sambel bakso

Malam menjelang larut. Sambil pulang ke rumah, Paiman mendorong gerobak bakso miliknya belok ke Sekar Kinanti Residence (SKR), sebuah kompleks perumahan baru. Siapa tahu, baksonya habis di sana sehingga pulang ke rumah dengan hati berbunga.

Ia menyapa petugas Satpam kompleks agar diizinkan masuk ke dalamnya. Untuk menarik perhatian penghuni kompleks ia bunyikan mangkuk dengan memukulnya dengan sendok.

Ting… ting… ting…

Dan benar saja. Ia dipanggil penghuni Blok G1 dan memesan 6 mangkok bakso.

“Sambelnya mana, mas?” Lanjut baca…

Share on Facebook

Balada sandal jepit

Demi alasan kenyamanan dalam perjalanan panjang Karawang – Jogja, saya mengenakan sandal jepit. Hal ini biasa saya lakukan jika sedang melakukan perjalanan (darat) yang memakan waktu berjam-jam.

Sandal jepit saya berwarna hitam, modelnya juga anti mainstream meskipun harganya seperti harga sandal jepit yang lain. Perjalanan ke Jogja kali ini saya tempuh melalui jalur selatan via Tol Cipali.

Pemberhentian pertama di sekitaran Pejagan, untuk melakukan isoma. Sengaja mampir di warung sate kambing (muda), saya ingin menikmati sop kambing untuk menghangatkan badan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bangun dari tidur panjang

Gino dan Tarman – dua cantrik┬áPadeblogan, tengah thingak-thinguk di depan pintu kamar Kyaine. Hari ini, Jumat Pahing, tepat sebulan Kyaine bertapa dan sebelumnya sudah berpesan kepada keduanya untuk membangunkan dari bertapanya.

“Ini sudah jam-nya belum, No?” tanya Tarman sambil membezuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Wis. Ayo kita ketuk pintu ini!” tukas Gino sambil beringsut mendekati pintu.

Lalu ia mengetuk pintu yang terbuat dari kayu sengon laut itu.

“Kyaine, mohon izin kami mau masuk,” kata Gino yang kemudian mendorong pintu ke arah dalam. Pintu memang tidak terkunci. Lanjut baca…

Share on Facebook