Abel adik tersayang

Sudah sebulanan ini ia tinggal bersama kami. Tidak seperti para kakaknya yang kami adopsi, ia merupakan anak yang kehilangan ibunya lalu berkelana di jalanan. Daripada kehujanan dan kepanasan, ia kami pungut ketika sedang menangis di depan sebuah toko beras.

Meskipun ia kucing kampung – belakangan setelah kami bawa ke veterinarian dan diidentifikasi ternyata ia hasil kawin silang kucing kampung dan ras – mudah diterima oleh Gre, Titi dan Mike, tanpa ‘pertarungan’ terlebih dahulu.

Seperti para kakaknya, ia juga punya nama. Abel, nama panggilannya. Nama panjang belum ada kesepakatan, apakah Marble Musafir (ia dalam keadaan bepergian, entah dari/menuju ibunya) atau Marble Safarudin (berdasarkan waktu ditemukan, yakni di bulan Safar). Lanjut baca…

Share on Facebook

Korupsi level jelata

Aku mengendarai pelan bus AKAP jurusan Solo-Jogja yang berangkat dari Terminal Tirtonadi Solo. Penumpang belum ada separoh bus. Aku berharap di Terminal Kartosuro nanti banyak penumpang yang naik.

Apalagi hari minggu sore seperti ini. Mahasiswa yang kuliah di Jogja kembali dari mudiknya di sekitaran kota Solo. Aku menjadi sopir bus lima belas tahun lebih, sehingga hapal benar dengan tren penumpang bus.

Dalam perjalanan aku dibantu oleh seorang kenek dan kondektur. Tugas kenek lebih sering menjadi co-driver. Ia tahu persis ke mana arah stir-ku. Komunikasi kami lakukan dengan kode-kode tertentu. Prinsip kami, bus melaju cepat dan penumpang pun selamat sampai di tujuan.

Tugas utama kondektur menarik ongkos para penumpang. Ia juga nanti yang melakukan laporan dan setor uang kepada juragan bus.

Dari kaca spion aku dapat memperkirakan berapa jumlah penumpang dalam satu rit. Sehingga laporan keuangan yang disampaikan oleh kondektur bisa aku cross-check dari jumlah penumpang berdasarkan perkiraanku. Lanjut baca…

Share on Facebook

Sambel bakso

Malam menjelang larut. Sambil pulang ke rumah, Paiman mendorong gerobak bakso miliknya belok ke Sekar Kinanti Residence (SKR), sebuah kompleks perumahan baru. Siapa tahu, baksonya habis di sana sehingga pulang ke rumah dengan hati berbunga.

Ia menyapa petugas Satpam kompleks agar diizinkan masuk ke dalamnya. Untuk menarik perhatian penghuni kompleks ia bunyikan mangkuk dengan memukulnya dengan sendok.

Ting… ting… ting…

Dan benar saja. Ia dipanggil penghuni Blok G1 dan memesan 6 mangkok bakso.

“Sambelnya mana, mas?” Lanjut baca…

Share on Facebook