Balada sandal jepit

Demi alasan kenyamanan dalam perjalanan panjang Karawang – Jogja, saya mengenakan sandal jepit. Hal ini biasa saya lakukan jika sedang melakukan perjalanan (darat) yang memakan waktu berjam-jam.

Sandal jepit saya berwarna hitam, modelnya juga anti mainstream meskipun harganya seperti harga sandal jepit yang lain. Perjalanan ke Jogja kali ini saya tempuh melalui jalur selatan via Tol Cipali.

Pemberhentian pertama di sekitaran Pejagan, untuk melakukan isoma. Sengaja mampir di warung sate kambing (muda), saya ingin menikmati sop kambing untuk menghangatkan badan. Lanjut baca…

Share on Facebook

Bangun dari tidur panjang

Gino dan Tarman Рdua cantrik Padeblogan, tengah thingak-thinguk di depan pintu kamar Kyaine. Hari ini, Jumat Pahing, tepat sebulan Kyaine bertapa dan sebelumnya sudah berpesan kepada keduanya untuk membangunkan dari bertapanya.

“Ini sudah jam-nya belum, No?” tanya Tarman sambil membezuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Wis. Ayo kita ketuk pintu ini!” tukas Gino sambil beringsut mendekati pintu.

Lalu ia mengetuk pintu yang terbuat dari kayu sengon laut itu.

“Kyaine, mohon izin kami mau masuk,” kata Gino yang kemudian mendorong pintu ke arah dalam. Pintu memang tidak terkunci. Lanjut baca…

Share on Facebook

Mandi kucing

Pada waktu SD dulu, saya jarang mandi pagi. Saya tak ingat alasan utama mengapa tidak mandi. Ritual pagi hanya raup Рcuci muka Рsaja, dan membahasi tangan dan kaki. Kemudian ganti baju dan berangkat ke sekolah.

Waktu itu saya dan teman-teman sekolah belum model bersepatu, masih dengan bertelanjang kaki. Menggunakan sandal (jepit) ke sekolah adalah pamali sehingga pilihan cuma dua saja: bersepatu atau nyeker.

Bisa dibayangkan betapa kusamnya kulit saya. Sudah berkulit hitam ditambah dilumuri daki. Kalau kulit saya terkena garuk, maka akan timbul bekas berwarna putih. Orang Jawa menyebut kulit mbekisak, bersisik. Lanjut baca…

Share on Facebook