Mandi kucing

Pada waktu SD dulu, saya jarang mandi pagi. Saya tak ingat alasan utama mengapa tidak mandi. Ritual pagi hanya raup Рcuci muka Рsaja, dan membahasi tangan dan kaki. Kemudian ganti baju dan berangkat ke sekolah.

Waktu itu saya dan teman-teman sekolah belum model bersepatu, masih dengan bertelanjang kaki. Menggunakan sandal (jepit) ke sekolah adalah pamali sehingga pilihan cuma dua saja: bersepatu atau nyeker.

Bisa dibayangkan betapa kusamnya kulit saya. Sudah berkulit hitam ditambah dilumuri daki. Kalau kulit saya terkena garuk, maka akan timbul bekas berwarna putih. Orang Jawa menyebut kulit mbekisak, bersisik. Lanjut baca…

Share on Facebook

Pungli sehidup-semati

(1)

Pakde No sedang mengantri di KUA. Ia ingin mengurus pernikahan anak perempuannya bulan depan. Berkas yang ia bawa rasanya sudah lengkap, termasuk berkas data calon menantunya.

(2)

O, iya. Sebelum ke KUA, Pakde No mesti urus surat pengantar/keterangan dari RT/RW sampai ke Kantor Desa dan Kecamatan. Semua itu untuk melegalisasi bahwa anak perempuannya benar penduduk di sana.

(3)

Untuk tempat hajat pernikahan anaknya, Pakde No tak mampu menyewa gedung pertemuan. Maka, ia memilih buka hajat di rumah saja, dengan menutup jalan di depan rumahnya. Namun, untuk menutup jalan ia perlu izin kepada instansi yang berwenang. Lanjut baca…

Share on Facebook

Kisah cinta Adipati Anom dan Rara Oyi #2

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Adipati Anom yang sedianya menginap semalam, molor hingga tiga malam. Sungguh, ia terpesona oleh kecantikan Rara Oyi.

“Paman, aku ingin membawa ayah ke sini untuk melamar Rara Oyi menjadi istriku,” kata Adipati Anom kepada Wirareja saat ia berpamitan pulang ke istana.

“Tapi Raden… Rara Oyi ini calon selir Prabu Amangkurat yang dititipkan kepada saya,” akhirnya Wirareja berterus terang kepada Raden Mas Rahmat, nama asli Adipati Anom.

Alih-alih surut langkah, hasrat cinta Adipati Anom malah semakin terbakar.¬† Lanjut baca…

Share on Facebook