Sandal jepit

“Maju, silakan di sini. Enggak apa-apa pakai sandal jepit,” pinta Jokowi.

Dikutip dari sini

Zaman SD saya dulu jamak anak-anak sekolah masih banyak yang nyeker, selain memang tak punya sepatu kebiasaan nyeker lebih praktis untuk bermain saat jam istirahat. Tetapi tidak sedikit dari teman-teman saya yang bersepatu. Kalau saya sih, ikutan nyeker. Nanti ketika saya klas 5 dan 6 mulai rutin bersepatu.

Seingat saya, jarang – bahkan tidak ada, memakai sandal jepit pada saat sekolah. Lebih baik nyeker. Cerita tentang sandal jepit, di rumah sandal jepit dipakai bersama. Saking awetnya kadang di bagian tumit sampai berlubang. Kalau tali sandal putus (biasanya bagian ujung tali yang dijepit jari) akan ‘diganjal’ menggunakan peniti. Lanjut baca…

Share on Facebook

Simbok

Simbok cethik geni. Ia ingin menghangatkan sayur lodeh untuk makan malam kami. Aku sendiri berada tak jauh dari darinya sedang membersihkan semprong dan mengisi minyak tanah pada tabung-tabung lampu teplok.

Kawan, aku gambarkan denah pawon simbok ya. Luas pawon kira-kira 3 X 6 meter. Di sana ada 2 tungku tanah liat yang dibikin oleh Bapak, di sebelah ada satu gentong cukup besar. Di sudut pawon terdapat kandang kecil untuk piara 4 kelinci. Lanjut baca…

Share on Facebook

Algojo Prabu Dewatacengkar

Rakyat Kerajaan Medang Kawulan sedang resah oleh pernyataan raja mereka, Prabu Dewatacengkar, bahwa ia sedang memerintahkan BPS untuk melakukan sensus penduduk. Sebagai kerajaan yang sedang berkembang dan membangun, ia menginginkan anak muda Kerajaan Medang Kawulan untuk berperan aktif dalam pembangunan. Perintah tersebut tidak boleh dibantah dan wajib dilaksanakan.

Keresahan yang dirasakan rakyat Medang Kawulan dipicu beredarnya kabar bahwa pendataan anak muda sebetulnya hanya kedok belaka. Konon, anak-anak muda tersebut akan disantap sebagai makanan oleh Prabu Dewatacengkar. Sangat mengerikan! Lanjut baca…

Share on Facebook